Minggu, 31 Oktober 2010

I Love You

I must be crazy now
Maybe I dream too much
But when I think of you
I long to feel your touch

To whisper in your ear
Words that are old as time
Words only you would hear
If only you were mine

I wish I could go back to the very first day I saw you
Should've made my move when you looked in my eyes
'Cause by now I know that you'd feel the way that I do
And I'd whisper these words as you'd lie here by my side

I love you, please say
You love me too, these three words
They could change our lives forever
And I promise you that we will always be together
Till the end of time

So today, I finally find the courage deep inside
Just to walk right up to your door
But my body can't move when I finally get to it
Just like a thousand times before

Then without a word he handed me this letter
Read I hope this finds the way into your heart, it said

I love you, please say
You love me too, these three words
They could change our lives forever
And I promise you that we will always be together
Till the end of time

Well maybe I, I need a little love yeah
And maybe I, I need a little care
And maybe I, maybe you, maybe you, maybe you
Oh you need somebody just to hold you
If you do, just reach out and I'll be there

I love you, please say
You love me too
Please say you love me too
Till the end of time
These three words
They could change our lives forever
And I promise you that we will always be together

Oh, I love you
Please say you love me too
Please please
Say you love me too
Till the end of time
My baby
Together, together, forever
Till the end of time
I love you
I will be your light
Shining bright
Shining through your eyes
My baby

Selasa, 26 Oktober 2010

Attitude

"Dialog via sms"

Mahasiswa (satu hari sebelumnya): "Bu, saya gak bisa kuliah malam ini, gak enak badan"
Dosen : "Ok gpp, tugasnya kumpul besok ya"
Mahasiswa : "Jam berapa bu?"
Dosen : "jam 7 an"
Mahasiswa : "Di kampus mana bu?"
Dosen : "Sudirman"
Mahasiswa : " Di ruang berapa bu?"

---------- (si dosen males bales sms itu... capeee deeeh..., emang segede apa tuh kampus, sampe gak ada usaha buat tanya ke BAAK atau cari sendiri)

Besoknya:

Mahasiswa : " Bu, maaf saya gak bisa nganterin tugas, karena saya ada kuliah di Kampus lain, saya kumpul hari kamis ya bu, ibu ada dimana kamis"

Dosen : "Kalo memang keberatan dengan tugas saya, gak usah di kumpul saja, saya tidak keberatan kamu tidak mengumpul sama sekali, atau tidak masuk kelas saya juga saya tidak keberatan sama sekali. oke ya..."

Mahasiswa : "Jangan gitu dong bu, oke deh saya usahakan ngumpul malam ini"


Hhhmmmm.... what do you think about this story.

Senin, 25 Oktober 2010

Memoar of Yogja

Pulang ke kotamu..
ada setangkup haru dalam rindu
Kembali aku menyusuri kota ini
Bersama cinta yang dulu pernah memberi warna tersendiri
dalam sepenggal kehidupan yang lalu
Perjalanan ini menebarkan atmosfir keindahan yang mengkristal membentuk sebuah agenda life futuristik.

Masih seperti dulu...
Tiap sudut menyapaku bersahabat..
Kota yang selalu memberi banyak inspirasi
Bersama sahabat sahabat terbaik yang setia dalam perjuangan edukasi
Bersama guru guru terhebat yang tak kenal lelah menjadi pelopor perubahan paradigma

Sejenak langkahku terhenti..
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Menyantap sajian memori, masakan sederhana yang menjadi hidangan mewah anak kos masa itu...
Bersama cinta yang mengganggu, cinta yang memojokkanku pada realita bahwa kehidupan tak sesederhana dan sebersahaja Yogjakarta.

Musisi jalanan mulai beraksi.. seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri di telan deru kotamu..
Kehidupannya yang penuh rahasia mementahkan kembali peta kehidupan yang terukir
jika memang keindahan Yogja bukanlah abadi
Maka biarkan aku pergi, biarkanlah aku menempuh arus deras dan ombak dahsyat..
Kaupun tau bahwa aku akan kuat.

Agency Theory dan Management Control Systems Dalam Konteks Budaya Asia

Abstract

This paper explains the conection among agency theory, culture and management control system in asia. Based on few study, Agency theory, in fact cannot generalize implementation in asia cultures. Its because limitation research when explore culture dimension or metodology development. This paper show point of view that eventhogh agency theory can be use to build MCS design but so many cultures factor can effect the agent and pricipal relation in an organization.

Keyword: agency theory, culture, management control systems

PENDAHULUAN

Dalam mencapai tujuan umum organisasi, seringkali terdapat berbagai hambatan. Hambatan tersebut kadangkala diakibatkan oleh tidak sesuainya antara tujuan agent dan principal, baik antara shareholder dengan manajemen maupun antara superior dengan subordinate dalam suatu organisasi (Jensen dan Meckling 1976). Hal ini dapat dijelaskan melalui agency theory. Agency theory memberikan dasar-dasar teoretis dalam banyak penelitian di bidang ekonomi, manajemen, marketing, finance, accounting dan sistem informasi. Teori ini memiliki pengaruh paling besar yang mendasari penelitian di bidang corporate governance dan management control systems di dunia barat (Ekanayake 2004).
Dalam budaya barat, agency theory telah memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam memandang masalah goal congruence (Jensen dan Meckling 1976; Eisenhardt 1989). Sayangnya, beberapa penelitian pada budaya Asia masih belum dapat dibuktikan secara konsisten mengeni perspektif agency theory (O’Connor 1997; Salter and Sharp 1997; Taylor 1995). Hal ini dikarenakan sifat dasar agent di antara berbagai budaya berbeda, baik dalam nilai dan norma (Hofstede 1980). Sampai saat ini masih belum terdapat kesimpulan umum di antara para peneliti mengenai perspektif agency theory jika melibatkan unsur budaya dalam memahami hubungan antara agent dan principal.
Untuk mengatasi permasalahan akibat hubungan antara agent dan principal tersebut, diperlukan management control systems (MCS) yang merupakan sarana untuk menyelaraskan tujuan antara agent dengan principal. Dengan desain management control system yang tepat, diharapkan akan mampu memahami hubungan (agent dan principal) ini dengan baik sehingga tujuan umum organisasi dapat di capai (Ekanayake 2004).
Paper ini berusaha untuk mengangkat fenomena yang telah diuraikan diatas dengan memandang pentingnya desain management control systems dalam mengatasi agency problem. Namun, dengan juga memperhatikan unsur budaya yang sangat mempengaruhi agency theory, yang pada akhirnya akan menentukan desain MCS yang tepat dalam mencapai tujuan organisasi.

AGENCY THEORY DAN MANAGEMENT CONTROL SYSTEMS (MCS)

Agency theory memfokuskan perhatian pada agency problem yang terjadi ketika terdapat hubungan keagenan antara principal dengan agent. Dalam hal ini principal mendelegasikan wewenangnya kepada agent untuk mengambil keputusan (Anthony dan Govindarajan 2003). Agency problem ini terjadi karena agent memiliki tujuan yang berbeda dengan principal (Jensen dan Meckling, 1976). Premis dari agency theory adalah bahwa agent berprilaku self-interested, risk averse, rational actors yang selalu berusaha less effort (moral hazard) dan adverse selection. Agency theory ini berusaha untuk menyelesaikan dua problem yang berkaitan dengan agency problem, yaitu (1) masalah pengawasan (monitoring) yang timbul karena principal tidak dapat membuktikan apakah agent telah berprilaku secara tepat; (2) masalah pembagian risiko (risk sharing) khususnya dalam kasus pengendalian outcome yang timbul ketika principal dan agent bersikap berbeda mengenai risiko (Eisenhardt 1989).
Terdapat dua tipe hubungan antara agent dan principal, yaitu (1) pertama, hubungan antara pemilik perusahaan atau shareholder (the principal) dengan top management (the agent) (Jensen dan Meckling 1976), (2) kedua, hubungan antara top management yang bertindak sebagai principal dengan manager unit sebagai agents (Govindarajan dan Fisher 1990). Beberapa studi yang memperluas konsep hubungan principal-agent pada tipe kedua adalah hubungan antara superior-subordinate, employer-employee, manager-worker (Eisenhardt 1988; Gomez-Mejia dan Balkin 1992).
Management control systems (MCS) memiliki tugas penting me-manage hubungan tersebut secara optimal dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi. Perspektif agency dapat memberikan penjelasan langsung mengenai aspek-aspek MCS suatu organisasi (Ekanayake 2004). Aspek tersebut antara lain sistem informasi dan proses informasi, internal control dan audits, pengukuran kinerja dan evaluasi, kompensasi dan insentif. Terdapat implikasi agency theory pada management control, yaitu, pertama, prilaku self-interest agen dapat di monitor melalu sistem informasi. Kedua, kompensasi dan insentif dapat menjadi alat untuk menyelaraskan motivasi agen dengan tujuan organisasi. Ketiga, kondisi ketidakpastian dan pertimbangan risiko yang dijelaskan agency theory memerlukan perhatian mengenai sistem pengendalian.
Samson Ekanayake (2004), mengemukakan bahwa esensi dari perspektif agency adalah sebagai alat untuk memonitor agen dan mengevaluasi kinerja dan penghargaan. Terdapat empat pertanyaan mendasar yang dihadapi oleh desainer MCS dan untuk mengidentifikasi bagaimana agency theory memberikan kontribusi yang tinggi dalam memahami dan memberikan jalan keluar dari beberapa pertanyaan tersebut. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

 Behaviour control or output control?
Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam mengendalikan agen. Ketika principal lebih menekankan pada control output, baik principal maupun agent dapat mengamati outcomes yang dihasilkan namun effort yang digunakan oleh agen hanya dapat diketahui oleh agen saja sedangkan principal tidak dapat mengetahuinya. Sedangkan ketika mengendalikan prilaku dalam memonitor effort agen, hal ini tidak memuaskan bagi agen dan dapat menimbulkan masalah moral hazard dan adverse selection. Masalah moral hazard dapat dihubungkan dengan monitoring (sistem informasi), outcome control (kontrak berdasar outcome), insentif (compensation schemes). Dalam hal masalah adverse selection, principal dapat memilih agen dengan level of skill yang tepat selain level of effort yang tepat juga.

 In designing compensation and incentives schemes
Dalam memonitor kinerja, ketika tugas sangat terprogram, agency theory menduga bahwa hal itu akan berhubungan positif dengan penggunaan kompensasi berdasarkan prilaku (fixed salary) dan berhubungan negatif dengan penggunaan kontrak berbasis outcome (variable pay). Namun ketika tugas sangat tidak terprogram, tidak ada cara lain selain mengawasi perilaku agen melalui penilaian outcomes. Sejalan dengan agency theory, perspektif ekonomi pada pengendalian organisasi umumnya mendukung penggunaan performance-contingency pay. Agency theory menentukan penggunaan insentif kinerja ketika principal tidak dapat mengamati tindakan agent.

 Management information systems
Pertanyaan penting mengenai management information systems adalah: bagaimana sistem yang komprehensif seharusnya memberikan informasi bisa menjadi sangat mahal? Bagaimana seharusnya informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi dan prosedur akuntansi (budgeting systems, monitoring systems, variance investigation systems, cost allocation systems, responsibility accounting systems dan transfer pricing systems) dapat dimasukkan ke dalam kontrak kerja untuk membatasi agency problem (Baiman 1990)? Haruskan pilihan sistem monitoring (seperti metode pelaporan) dapat didelegasikan kepada agent (Baiman 1990)?
Agency theory (transaction cost economic’s) mengimplikasikan bahwa ketidakmampuan untuk memiliki kontrak yang lengkap dapat meningkatkan prosedur pengelolaan (management control systems) sebagai suatu mekanisme untuk membatasi prilaku opportunistik agent. Dengan demikian, aturan sistem informasi manajemen menjadi bagian dari prosedur pengelolaan yaitu untuk memonitor prilaku self-interested agent.
 Performance evaluation
Jika agen berprilaku risk averse, evaluasi kinerja berdasar tanggung jawab akuntansi dan kompensasi mungkin tidak menjadi optimal sebagaimana meninggalkan risiko (mengutamakan pencapaian outcome) bagi agen. Meskipun tanggungjawab akuntansi secara luas di terima dalam literatur akuntansi, agency theory berpendapat bahwa agen seharusnya hanya bertanggungjawab untuk berusaha menggunakan skill yang ada. Satu pesan penting dari agency theory mengenai MCS adalah bahwa evaluasi saja tidak cukup untuk memperoleh perilaku yang diinginkan dari agen, tetapi evaluasi yang dilakukan bersamaan dengan reward dapat lebih berarti.

AGENCY THEORY DALAM KONTEKS BUDAYA ASIA

Faktor budaya dapat mempengaruhi perilaku organisasional secara mendalam meskipun individu seringkali kurang menyadari dampaknya. Kebanyakan peneliti tidak memperhitungkan dampak nilai-nilai yang telah sangat tertanam ini, sehingga banyak aspek dari teori-teori organisasi yang dihasilkan pada budaya yang satu tidak sesuai jika diterapkan dalam budaya lainnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai teori-teori dari Amerika yang didasarkan atas budaya Barat apakah dapat dijadikan teori yang universal. Oleh karenanya, banyak peneliti yang memandang perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengintegrasikan teori yang bersifat lintas budaya dalam usaha untuk membentuk rerangka yang integratif (Boyacigiler dan Adler 1991).
Meskipun agency theory dapat menangkap sifat agen-agen pada budaya Barat, namun dalam budaya yang berbeda, hal itu belum tentu sesuai dengan budaya di luar budaya Barat (Ekanayake 2004). Dengan demikian, timbul pertanyaan apakah sifat-sifat agen memiliki kesamaan dalam lintas budaya. Secara fundamental, hal ini penting diperhatikan dalam upaya penerapan agency theory secara universal. Hofstede (1980) meneliti keterkaitan norma dan nilai pada agen (karyawan, subordinate dan manager) yang berbeda di antara berbagai budaya, hal ini memberikan pemahaman bahwa sifat dasar agen-agen berbeda sesuai dengan budayanya masing-masing.
Dalam konteks Asia, terdapat beberapa penelitian yang secara tidak langsung memberikan dukungan yang besar bahwa terdapat jarak yang jauh antara sifat agen-agen pada budaya Barat dengan budaya Asia. Terdapat juga sejumlah penelitian yang secara langsung menguji agency theory dalam konteks budaya yang berbeda. Taylor (1995) dalam Ekanayake (2004) menggunakan multi-paradigm (contingency, agency dan cultural) sebagai kerangka konseptual yang menguji prilaku yang berkaitan dengan Anggaran dalam setting multi budaya. Variabel agency yang digunakan adalah information asymmetry dan outcome-based compensation schemes. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan diantara lintas budaya mengenai asumsi yang mendasari agency theory dalam prilaku berkaitan dengan anggaran. Taylor mengemukakan bahwa keefektifan sub sistem pengendalian tradisional seperti partisipasi anggaran, penekanan pada budget dan pola kompensasi, hanya sesuai untuk kelompok Barat dan tidak tepat untuk kelompok China.
Sharp dan Salter (1997), menguji universalitas agency theory dan prospect theory dalam menjelaskan keputusan eskalasi komitment untuk proyek yang rugi. Studi ini menggunakan dimensi individualism/collectivism dan loyal versus utilitarian. Hasilnya menunjukkan bahwa manajer Asia lebih berani mengambil risiko dibanding manajer Amerika Utara bila membuat keputusan yang bersifat keuntungan jangka panjang bagi perusahaan, tetapi manajer Asia kurang berani mengambil risiko pada keputusan yang melibatkan keuntungan finansial jangka pendek. Manajer Asia mungkin mempunyai orientasi jangka panjang dari manajer Amerika Utara dalam membuat keputusan. Teori agensi mempunyai explanatory power yang kuat di Amerika Utara, tetapi tidak mempunyai explanatory power pada sampel Asia. Efek pembingkaian signifikan pada kedua kelompok sampel dan tidak signifikan berbeda
O’Connor dan Ekanayake (1997, 1998) menguji perbedaan dalam penggunaan Anggaran (sebagai pengendali output) dalam mengevaluasi kinerja manager subordinat di Australia, Singapore, South Korea dan Sri Lanka. Hofstede (1980) mengemukakan dimensi budaya seperti power distance, individualism dan uncertainty avoidance telah digunakan untuk mengukur budaya dan mengembangkan hipotesis. Hasilnya secara empiris mendukung ekspektasi teoretis bahwa penekanan pada anggaran dalam mengevaluasi kinerja cukup rendah pada sampel Asia, hal ini mengindikasikan rendahnya pengaruh agency dalam budaya Asia.
Dari beberapa tinjauan literatur mengenai agency theory dalam perspekstif budaya, dapat dikatakan bahwa agency theory belum dapat sepenuhnya berlaku secara universal. Faktor budaya yang sangat berbeda antara dunia Barat dan Timur telah mempengaruhi prilaku agen-agen dalam bertindak. Dengan demikian, hasil-hasil penelitian yang mengambil setting di luar Asia tidak dapat berlaku secara umum, sehingga agency problem yang terjadi dalam suatu organisasi juga memiliki level dan pola yang bervariasi sesuai dengan budaya dimana mereka berinteraksi dalam organisasi.
PERAN BUDAYA TERHADAP DESAIN MANAGEMENT CONTROL SYSTEMS
Dalam pengembangan body of reasearch pada tahun-tahun terakhir ini telah diarahkan pada pemahaman mengenai hubungan antara budaya dan desain managemenet control systems (MCS) di negara-negara yang berbeda (Harrison dan McKinnon 1999). Dengan adanya peningkatan globalisasi, telah memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk mengembangkan operasi secara internasional. Hal ini membawa pada pertanyaan apakah desain MCS yang ada pada perusahaan saat ini sudah cukup baik dan sesuai dengan lingkungan global tersebut atau apakah seharusnya mendesain kembali MCS agar sesuai dengan budaya negara-negara tujuan operasi perusahaan. Desain MCS merupakan issu utama dalam riset-riset akuntansi selama beberapa tahun. Namun sayangnya mayoritas penelitian-penelitian ini hanya ditekankan pada satu negara saja, meskipun telah di akui bahwa unsur budaya sangat penting.
Harrison dan McKinnon (1999) mereview penelitian-penelitian mengenai management control system (MCS) dalam lintas budaya mulai dari tahun 1980, dalam upaya untuk memberikan pemahaman mengenai pengaruh budaya terhadap desain MCS, dan untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan metodologikal riset-riset tersebut untuk memberi arahan pada riset-riset mendatang. Hasilnya menunjukkan bahwa penelitian-penelitian lintas budaya ini terlalu menyederhanakan konsep budaya dan perbedaan mereka dalam hal metodologis dalam penelitian memberikan hasil yang berbeda pula.
Beberapa penelitian yang ada telah menunjukkan adanya hubungan antara desain MCS dengan budaya, baik yang mendukung atau menentang bahwa budaya dapat memberikan pengaruh terhadap desain MCS. Berbagai perbedaaan hasil penelitian ini di duga tergantung pada originalitas dari peneliti. Analisis yang dilakukan Harrison dan McKinnon (1999) menunjukkan perbedaan hasil penelitian ini karena beberapa hal berikut, yaitu, pertama, tingginya variasi karakteristik MCS dan organisasi yang telah di uji. Meskipun karakteristik MCS beberapa studi sama, namun definisi operasional dari karakterisitiknya seringkali bervariasi atau ketidakcukupan definisi secara umum. Seperti contoh karakteristik MCS mengenai formalization/rules dengan prosedur, yang dioperasionalisasikan secara berbeda dalam berbagai penelitian. Kedua, perbedaan dimensi budaya yang digunakan memberikan perbedaan studi dalam mendukung hubungan antara budaya-MCS. Meskipun dimensi budaya yang digunakan sama, kadangkala perbedaan teori dapat memberikan arti yang berbeda pula. Ketiga, meskipun metode survey kuesioner mendominasi studi-studi tersebut, perbedaan ukuran sampel, managerial level dan lokasi responden serta variabel control yang digunakan membuat sulit dalam menilai convergen dan perbedaan hasil penelitian.
Penelitian yang dilakukan Chow et al. (1991) menggunakan eksperimental studi, menekankan pada dimensi individualism (IDV) mengenai workflow dan pay interdependence di Singapore dan US. Hasilnya menunjukkan IDV merupakan dimensi yang paling relevan untuk karakteristik MCS. Frucot dan Winston (1991) melakukan penelitian pada partisipasi budget untuk menguji hasil Brownell’s (1982) mengenai partisipasi di antara manager US. Mereka menghipotesiskan bahwa hasil Brownell’s tidak bisa digeneralisir untuk Mexico, dengan alasan bahwa rangking power distance (PD) dan uncertainty avoidance (UA) di Mexico lebih tinggi dibandingkan US (menurut Hofstede 1980). Rangking ini juga dihubungkan dengan autokrasi, rule-based organization dan rendahnya partisipasi. Hasilnya bertentangan dengan yang mereka perkirakan. Meskipun hasil ini menduga bahwa beberapa pengaruh budaya terjadi pada level managerial dan firm ownership subsets pada sampel mereka, penemuan mereka menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh budaya, dan hasil Brownell’s tidak bisa digeneralisir untuk Mexico.
Birnbaum dan Wong (1985) menggunakan dimensi Hofstede’s uncertainty avoidance (UA) untuk menghipotesiskan bahwa Hong Kong mengacu pada rendahnya level horizontal differentiation dibandingkan US. Hipotesis ini di dasari oleh Hofstede (1980) yang menemukan bahwa para pekerja di Hong Kong memiliki preferensi yang kuat pada level UA yang rendah, dimana hal berhubungan dengan rendahnya level horizontal differentiation. Hasilnya menunjukkan gagal dalam mendukung hipotesis mereka. Hal ini dikarenakan pilihan hipotesis mereka hanya didasarkan pada penemuan Hofstede saja tanpa berusaha mempertimbangkan atribut budaya lainnya. Lincoln et al. (1981), menemukan bahwa level horizontal differentiation di Jepang cukup rendah, dimana UA tinggi. Birnbaum dan Wong menghipotesiskan bahwa rendahnya level of horizontal differentiation di Hong Kong karena UA juga rendah.
Kebanyakan penelitian difokuskan pada masyarakat di Anglo-American (khususnya US dan Australia) dan dibandingkan dengan Asia (Jepang, Singapore, Hong Kong). Hal ini dikarenakan adanya perbedaan substansial pada power distance (PD), individualism (IDV) dan uncertainty avoidance (UA). Cluster pada Anglo_ameria memiliki tipe lebih tinggi pada IDV dan rendah pada PD dibandingkan Asia, studi-studi cenderung untuk mengasumsikan IDV dan PD memiliki nilai yang sama untuk masing-masing negara (Harrison 1992). Dampak nilai budaya ditentukan oleh centralitas mereka di dalam sistem nilai dari setting budaya. Mereka membedakan konsep nilai sebagai core dan peripheral yang dapat menjelaskan perbedaan penemuan dari penelitian-penelitian budaya pada MCS.
Ucno dan Sekaran (1992) menggunakan enam budget control yang digunakan dalam perusahaan manufaktur di Jepang dan USA. Dihipotesiskan bahwa empat dari enam yang digunakan di USA, yaitu (1) komunikasi formal dan koordinasi dalam proses perencanaan budget, (2) adanya slack pada budget, (3) pengendalian pada budget secara luas, (4) menggunakan evaluasi jangka panjang sampai perluasan terkecil. Dua hipotesis yang diajukan bahwa perusahaan Jepang menyusun proses perencanaan budget mereka dan menggunakan waktu yang panjang dalam prosesnya sangat luas digunakan dibandingkan perusahaan-perusahaan di Amerika, tidak terdukung. Empat premis mengenai perbedaan IDV antara Jepang dan USA terdukung, sedangkan dua premis mengenai perbedaan dalam UA tidak terdukung.
Nilai central dalam suatu budaya memiliki implikasi pada perusahaan multinasional, sehingga diperlukan modifikasi atas MCS domestik yang seharusnya disesuaikan dengan negara asing dimana perusahaan akan beroperasi. Penelitian Chow et al. (1996) memberikan bukti bahwa yang mendukung asumsi tersebut. Dalam studi mereka digunakan delapan karakteristik MCS pada perusahaan Jepang dan USA yang beroperasi di Taiwan. Organisasi yang beroperasi di sana secara substansial memodifikasi MCS mereka untuk menyesuaikan dengan budaya Taiwan yang berbeda. Sedangkan O’Connor (1995) menemukan bukti dari perusahaan yang memodifikasi budaya mikrokosmik budaya organisasi melalui selection, sosialisasi dan pelatihan. Hal ini tidak konsisten dengan penemuan Chow et al. (1996), terlebih lagi hal itu menduga bahwa organisasi memiliki pilihan untuk memodifikasi, pilihan tersebut tergantung pada cost modifikasi budaya organisasi atau memodifikasi MCS pada budaya yang berbeda.
Dari beberapa penelitian diatas, dapat dirasakan adanya beberapa kelemahan yang ada pada penelitian-penelitian yang menguji pengaruh budaya terhadap desain MCS. Hal ini dapat di lihat dari perbedaan-perbedaan hasil-hasil temuan dari beberapa peneliti meskipun karakteristik dan faktor budaya yang digunakan adalah sama. Harrison dan McKinnon (1999) menyebutkan empat kelemahan penelitian lintas budaya di bidang sistem pengendalian manajamen yaitu (1) gagal mempertimbangkan totalitas domain budaya; (2) tendensi tidak mempertimbangkan intensitas diferensial dari norma dan nilai lintas nasional; (3) tendensi memperlakukan budaya secara simplistis dengan hanya menggunakan kumpulan terbatas dari dimensi agregat; (4) terlalu mengandalkan konsepsi budaya yang terbatas.

AGENCY THEORY, BUDAYA DAN MANAGEMENT CONTROL SYSTEMS (MCS)

Dari uraian literatur yang telah dijabarkan diatas, dapat di lihat adanya hubungan yang kuat antara agency theory dan faktor budaya dengan desain management control systems (MCS). Agency theory dapat menjelaskan adanya masalah agency dalam hubungan agen dan principal. Untuk mengatasi permasalahan akibat hubungan antara agent dan principal tersebut, diperlukan management control systems (MCS) yang merupakan sarana untuk menyelaraskan tujuan antara agent dengan principal. Dengan desain management control system yang tepat, diharapkan akan mampu memahami hubungan (agent dan principal) ini dengan baik sehingga tujuan umum organisasi dapat di capai (Ekanayake 2004). Ekanayake (2004), mengemukakan bahwa esensi dari perspektif agency adalah sebagai alat untuk memonitor agen dan mengevaluasi kinerja dan penghargaan.
Agency theory dapat menangkap sifat agen-agen pada budaya Barat, namun dalam budaya yang berbeda, hal itu belum tentu sesuai dengan budaya di luar budaya Barat (Ekanayake 2004). Dengan demikian, timbul pertanyaan apakah sifat-sifat agen memiliki kesamaan dalam lintas budaya. Secara fundamental, hal ini penting diperhatikan dalam upaya penerapan agency theory secara universal. Hofstede (1980) meneliti keterkaitan norma dan nilai pada agen (karyawan, subordinate dan manager) yang berbeda di antara berbagai budaya, hal ini memberikan pemahaman bahwa sifat dasar agen-agen berbeda sesuai dengan budayanya masing-masing.
Dari beberapa tinjauan literatur mengenai agency theory dalam perspekstif budaya, dapat dikatakan bahwa agency theory belum dapat sepenuhnya berlaku secara universal. Faktor budaya yang sangat berbeda antara dunia Barat dan Timur telah mempengaruhi prilaku agen-agen dalam bertindak. Dengan demikian, hasil-hasil penelitian yang mengambil setting di luar Asia tidak dapat berlaku secara umum, sehingga agency problem yang terjadi dalam suatu organisasi juga memiliki level dan pola yang bervariasi sesuai dengan budaya dimana mereka berinteraksi dalam organisasi (Taylor 1995; Sharp dan Salter 1997; O’Connor dan Ekanayake 1997, 1998).
Beberapa penelitian yang ada telah menunjukkan adanya hubungan antara desain MCS dengan budaya, baik yang mendukung atau menentang bahwa budaya dapat memberikan pengaruh terhadap desain MCS (Chow et al. 1991; Harrison 1992). Berbagai perbedaaan hasil penelitian ini di duga tergantung pada originalitas dari peneliti.
Dari beberapa penelitian diatas, dapat dirasakan adanya beberapa kelemahan yang ada pada penelitian-penelitian yang menguji pengaruh budaya terhadap desain MCS. Hal ini dapat di lihat dari perbedaan-perbedaan hasil-hasil temuan dari beberapa peneliti meskipun karakteristik dan faktor budaya yang digunakan adalah sama. Harrison dan McKinnon (1999) menyebutkan empat kelemahan penelitian lintas budaya di bidang sistem pengendalian manajamen yaitu (1) gagal mempertimbangkan totalitas domain budaya; (2) tendensi tidak mempertimbangkan intensitas diferensial dari norma dan nilai lintas nasional; (3) tendensi memperlakukan budaya secara simplistis dengan hanya menggunakan kumpulan terbatas dari dimensi agregat; (4) terlalu mengandalkan konsepsi budaya yang terbatas.

PENUTUP

Agency theory yang merupakan teori yang paling berpengaruh dalam memahami hubungan antara agent dan principal ternyata memang sangat tepat dan telah teruji di dunia barat. Namun ketika teori ini diterapkan pada budaya yang berbeda maka hasilnya juga tidak konsisten sebagaimana hasil yang di peroleh pada asal teori ini ditemukan. Dalam hal ini dapat kita lihat bahwa faktor budaya sangat berperan dalam menentukan suatu hubungan antara agent dan principal.
Ketidakkonsistenan hasil pengujian agency theory pada budaya yang berbeda akan memberikan suatu tantangan tertentu bagi organisasi dalam mendesain sistem pengendalian manajemen yang dipercaya mampu mengatasi agency problem atas hubungan principal dan agent. Beberapa penelitian juga memberikan petunjuk bahwa faktor budaya juga sangat berpengaruh dalam penentuan desain MCS. Namun review penelitian yang dilakukan oleh Harrison dan McKinnon (1999) menjawab bahwa penelitian-penelitian yang memasukkan unsur pengaruh budaya terhadap desain MCS, memiliki 4 keterbatasan baik pada dimensi maupun metodologi seperti yang telah dikemukakan diatas.
Dengan demikian dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara budaya, agency theroy dan management control systems (MCS). Namun peran budaya dalam konteks Asia masih memerlukan penelitian-penelitian lebih jauh untuk menggeneralisir hasil-hasil penemuan di budaya Barat.






DAFTAR PUSTAKA

Anthony, Robert and Vijay Govindarajan. 2003. Management Control System. 11th Edition: Irwin McGraw Hill.
Baiman, S. 1990. Agency Research in Managerial Accounting: A second look. Accounting Organizations and Society. Vol. 15. No. 4 Pp: 314-371.
Boyacigiler, N.A., and Adler, N. 1991. The Parochial Dinosaur: Organization Science in A Global Context. Academy of Management Review. Pp: 262-290.
Brownell, P. 1982. A Field Study Examination of Budgetary Participation and Locus of Control. The Accounting Review. Vol. 56 (4). Pp: 844-860.
Chow, C. and Y. Kato, K. Merchant. 1996. The Use of Organizational Controls and Their Effects on Data Manipulation and Management Myopia: A Japan vs. U.S. comparison. Accounting, Organizations and Society. Vol. 21. pp.175 - 192.
Eisenhardt. 1989. Agency theory: An Assessment and Review. Academy of Management Review. Vol. 14 No. 1. Pp: 57-74.
Ekanayake, Samson. 2004. Agency Theory, National Culture and Management Control Systems. Journal of American Academy of Business. Vol. 4. Pp: 49-54.
Frucot, Veronique and Shearon Winston T. 1991. Budgetary Participation, Locus of Control and Mexican Managerial Performance and Job Satisfaction. The Accounting Review. January. Pp: 80-89.
Gomez-Mejia, L. and Balkin, D. 1992. The Determinants of Faculty Pay: An Agency Theory Perspective. Academy of Management Journal. Vol. 35. Pp: 921-955.
Govindarajan, V and Fisher J. 1990. Strategy, Control Systems and Resource. Sharing: Effects on Bussiness Unit Performance. Academy of Management Journal. Vol. 33 Issue 3. Pp 259-285.
Harrell, A. and P. Harrison. 1994. An Incentive To Shirk, Privately-Held Information, and Managers Project Evaluation Decisions. Accounting, Organizations and Society. Vol. 19 pp: 569 - 577.
Harrison, G.L., and J. McKinnon. 1999. Cross-Cultural Research in Management Control Systems Design: A Review of The Current State. Accounting, Organizations and Society. Vol. 24 pp.483 - 506.
Hofstede, Geert. 1980. Culture’s Consequences: International Differences in Work Related Value . Newbury Park, CA: Sage.
Jensen dan Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs, and Ownership Structure. Journal of Financial Economics. Vol: 3. Pp: 305-360.
O’Connor N.G. 1997. Patterns of Cultural and Budgetary Controls in International Joint Ventures in South Korea, Asian Review of Accounting. Pp. 1-20.
Salter, Stephen B. dan David J. Sharp. 1997. Agency Effects and Escalation of Commitment: do Small National Culture Differences Matter?. The International Journal of Accounting. Vol. 36. Issue 1. Pp: 33-45.
Taylor, Lance. 1995. Environmental and Gender Feedbacks in Macroeconomics. World Development. Vol. 23. Issue 11. Pp: 1953-1961.

Sumber : Yusnaini. 2010. Agency Theory dan Management Control Systems Dalam Konteks Budaya Asia. JENIUS.Volume 01 No. 01. Politeknik Palcomtech. Palembang.

Pengaruh Partisipasi Pemakai Terhadap Kepuasan Pemakai Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah (SIAKD) pada Pemerintah Daerah Sumatera Selatan

Abstract

This study investigate local government accounting information systems implementation. Hypothesis investigate the effect of user participation to user satisfaction. Furthermore, to examine interaction between user participation and contingencies factor to user satisfaction. Participants are as many as 68 employee in 5 local gevernment south of sumatera. Moderated regression analysis is used to investigate hypothesis.
The result show, first, user participation has positif significant effect to user participation. Second, interaction between user participation with top management support and user influent have positif significant effect to user satisfaction. While no significant effect in interaction with user-developer communication, task complexity and systems complexity.

Keyword: user participation; top management support; user-developer communication; systems complexity; user influence; user satisfaction


I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam upaya mencapai good goverment governance, pemerintah terus mengintensifkan langkah-langkah dalam pengelolaan keuangan daerah. Melalui berbagai Peraturan dan Undang-Undang, pemerintah terus meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan profesionalitas dalam mengelola keuangan daerah. Pemerintah menterjemahkan tanggungjawab atas keuangan yang dikelolanya dalam bentuk penyampaian laporan keuangan. Untuk membantu penyusunan laporan keuangan, pemerintah membuat sistem akuntansi keuangan daerah. Sistem ini tentu saja sejalan dengan amanah Peraturan dan Undang-Undang yang mengatur hal ini. Dalam pengembangan sistem informasi akuntansi, pemerintah mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 dan disempurnakan oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan tersebut berusaha menyempurnakan peraturan-peraturan pemerintah sebelumnya tentang pengelolaan keuangan daerah. Peraturan ini berusaha mengarahkan penyusunan laporan keuangan yang akuntabel dan transparan. Implementasi sistem informasi keuangan daerah diharapkan dapat memenuhi tuntutan masyarakat tentang transparansi dan akuntabilitas lembaga sektor publik (Mardiasmo 2002).
Saat ini sistem informasi keuangan daerah yang diterapkan di Indonesia sudah diseragamkan. Sistem ini dibangun dengan bekerjasama dengan pihak pengembang sistem untuk memperoleh sistem yang andal. Tujuan keseragaman ini untuk memperoleh laporan keuangan yang online dan mudah diakses baik dipusat maupun daerah. Namun dalam implementasinya, banyak daerah yang masih belum menggunakan sistem yang baru. Hal ini tentu saja menghambat penerapan sistem yang seragam untuk seluruh wilayah Indonesia. Peneliti mengamati implementasi sistem di pemerintah daerah Sumatera Selatan baik dilingkungan provinsi dan beberapa kabupaten/kota. Pada wilayah Sumatera Selatan, terdapat beberapa pemerintahan daerah yang menerima dan ada yang menolak. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa terjadi hal demikian, padahal pemerintah pusat sudah memberikan beberapa dukungan untuk implementasi sistem. Dukungan tersebut antara lain diberikannya sofware sistem, disediakannya fasilitas komputer dan tenaga ahli untuk menjadi field support di masing-masing daerah. Dengan demikian peneliti ingin mengetahui faktor-faktor perilaku dari pengguna sistem dalam pemanfaatan sistem yang baru.
Menurut pendapat Szajna dan Scammel (1993), kesuksesan pengembangan sistem informasi sangat tergantung pada kesesuaian harapan antara sistem analis, pemakai (User), sponsor dan costumer. Demikian pula Bodnar dan Hopwood (1995), berpendapat bahwa perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi, tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Hal ini diperkuat oleh temuan McDermott (1987) bahwa terdapat kira-kira tiga puluh persen kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan tidak memperhatikan aspek organisasional. Perubahan perilaku dan organisasional ini dapat berupa resistance to change. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati.
Untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan (resistance to change) maka diperlukan adanya partisipasi dari pemakai (Ginzberg, 1981; Szjana dan Scammel, 1993; Lawrence dan Low, 1993; Hunton dan Kenneth, 1994; McKeen dkk, 1994; Muntoro, 1994; Choe, 1996). Harapan dari berpartisipasinya pemakai dalam pengembangan sistem informasi adalah agar pemakai dapat memperoleh kepuasan atas sistem yang dikembangkan. Ives dan Olson (1984) melakukan telaah terhadap tujuh penelitian mengenai hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai, memperoleh hasil bahwa dua penelitian menunjukkan hasil yang positif, empat penelitian menunjukkan hasil negatif dan satu penelitian hasilnya mixed. Hasil yang tidak jelas (equivocal), ini disebabkan terbatasnya teori dan tidak lengkapnya metodologi. Demi merekonsiliasi kondisi tersebut, beberapa peneliti menggunakan pendekatan kontinjensi yang secara sistematis mengevaluasi berbagai kondisi atau variabel-variabel yang dapat mempengaruhi hubungan antara partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi dengan kepuasan pemakai atas sistem tersebut. Ada banyak faktor yang kontinjensi yang dianggap berpengaruh pada hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai. Namun, dalam penelitian ini difokuskan pada lima faktor kontinjensi yaitu dukungan manajemen puncak, komunikasi pemakai – pengembang, kompleksitas tugas, kompleksitas sistem, dan pengaruh pemakai (user influence).
Peneliti memfokuskan pada lima faktor kontinjensi tersebut dikarenakan adanya research gap antara temuan penelitian yang dilakukan olehMcKeen (1994) dengan Chandrarin (1997), yakni menurut McKeen kompleksitas tugas sebagai pure moderator, sedangkan menurut Chandrarin dan Indriantoro (1997) kompleksitas sebagai independent predictor. Research gap ini terjadi pada temuan penelitian McKeen (1994) dengan temuan penelitian Restuningdiah (1999), yakni temuan McKeen menunjukkan bahwa pengaruh pemakai sebagai Independent Predictor, sedangkan temuan Restuningdiah menunjukkan bahwa pengaruh pemakai sebagai quasi moderator. Demikian pula kontradiksi temuan terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh McKeen (994) dengan penelitian yang dilakukan oleh Robey dan Farrow (1982), yakni pengaruh pemakai dilaporkan McKeen sebagai independent predictor, sedangkan oleh Robey dan Farrow, pengaruh pemakai dilaporkan sebagai moderating variabel. Kontradiksi ini terjadi pula pada temuan penelitian Chandrarin dan Indriantoro (1997) dengan temuan penelitian Restuningdiah (1999), yakni kompleksitas tugas oleh Chandrarin dan Indriantoro dilaporkan sebagai independent predictor, sedangkan oleh Restuningdiah, kompleksitas tugas sebagai quasi moderator. Sementara temuan para peneliti ini menunjukkan pengaruh positif partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai, dengan besarnya pengaruh yang berbeda-beda dan fluktuatif.
Penelitian yang menguji tentang faktor-faktor psikologi telah dilakukan oleh Primasari dkk (2008). Penelitian tersebut menguji tentang variabel anteseden dan konsekuensi implementasi sistem informasi keuangan daerah pada propinsi Jawa Tengah. Hasilnya menunjukkan bahwa adaptasi pegawai dan pengaruh disain sistem berpengaruh terhadap implementasi sistem informasi dan pada akhirnya akan menciptakan kepuasan pegawai dan dihasilkannya kinerja yang tinggi.
Beberapa penelitian sebelumnya tersebut menggunakan setting pada organisasi privat. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, pada pada penelitian ini penulis tertarik untuk menguji bagaimana jika teori-teori mengenai pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai sistem informasi yang berada pada organisasi sektor publik. Dalam hal ini penelitian dilakukan pada lembaga pemerintahan dengan pegawai pemerintah sebagai subjek penelitian. Adapun teknologi informasi yang diteliti adalah penggunaan sistem informasi keuangan daerah.
1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah Partisipasi Pemakai dalam pengembangan sistem informasi berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai.
2. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Dukungan Manajemen Puncak berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
3. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Komunikasi Pemakai-Pengembang berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
4. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Tugas berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
5. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Sistem berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi
6. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Pengaruh Pemakai berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai :
1. Partisipasi Pemakai dalam pengembangan sistem informasi berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai.
2. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Dukungan Manajemen Puncak berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
3. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Komunikasi Pemakai-Pengembang berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
4. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Tugas berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
5. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Sistem berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi
6. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Pengaruh Pemakai berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi








II. Telaah Teori dan Pengembangan Hipotesis
2.1. Pengelolaan Keuangan Daerah
Proses ini tersusun dari pelaksanaan fungsi-fungsi penganggaran pembukuan dan pemeriksaan atau secara operasional apabila dirangkaikan dengan daerah maka pengelolaan keuangan daerah adalah yang pelaksanaannya meliputi penyusunan, penetapan, pelaksanaan pengawasan dan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (Domai, 2002). Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pengelolaan keuangan dan sumber-sumber ekonomis (aset) daerah sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengelolaan keuangan dan aset daerah yang baik, dalam pengertian transparan, efisien, efektif dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Pasal 56 ayat (2) UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pasal 5 Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, pasal 100 PP 58 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah mengatur bahwa laporan keuangan yang wajib disampaikan oleh Pemerintah Daerah adalah sekurang-kurangnya terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Dasar dalam penyusunan pelaporan keuangan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 Pemerintahan Daerah pasal 184 ayat (2) dan ayat (3), serta ditegaskan kembali dalam PP 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 96, yang menyebutkan bahwa pertanggungjawaban pelaksanaan APBD adalah laporan keuangan yang disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan (SAP).
Laporan keuangan selain harus disusun oleh Pemerintah Daerah, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) juga diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan sebagainana yang dimaktub pada UU No. 17 Tahun 2003 mengenai Keuangan Negara dan UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang mengatur mengenai berbagai ketentuan tentang pengelolaan keuangan negara termasuk penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dalam lingkup pemerintah daerah. Pasal 10 ayat (3) UU No. 17 Tahun 2003, dan ditegaskan kembali Peraturan Pemerintah (PP) 58 Tahun 2005, menyebutkan bahwa salah satu tugas Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya. Lebih rinci lagi tentang penyampaian laporan keuangan tersebut, menurut PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan PP No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) mewajibkan bahwa setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk menyusun laporan keuangan yang terdiri dari (1) Laporan Realisasi Anggaran ; (2) Neraca; (3) Laporan Arus Kas dan (4) Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).
Dalam kaitan dengan asas akuntabilitas dan transparansi di atas, informasi keuangan yang memadai dan andal diperlukan sebagai dasar pembuatan keputusan yang rasional bagi pihak internal maupun eksternal yang mempunyai kepentingan pada Pemerintah Daerah. Sistem akuntansi keuangan daerah yang baik akan menjamin bahwa laporan keuangan yang disusun merupakan informasi keuangan yang memadai dan andal. Sistem akuntansi ini pada dasarnya berisi ketentuan yang mengatur sistem dan prosedur akuntansi yang mencakup pengorganisasian formulir/ dokumen, catatan dan laporan keuangan oleh unit-unit organisasi atau SKPD.

2.2. Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah
Terciptanya sistem pengelolaan Keuangan Daerah (Keuda) yang efisien dan efektif merupakan kebutuhan setiap Pemda untuk dapat mencapai kinerja yang optimal dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomis. Efisiensi dan efektivitas pengelolaan Keuda dipengaruhi oleh kemampuan Pemda dalam melaksanakan mekanisme manajemen yang bertumpu pada dua dimensi penting, yaitu: perencanaan dan pengendalian. Penetapan anggaran Daerah merupakan hasil mekanisme perencanaan Keuda sedang pelaksanaan dan pengawasan anggaran Daerah merupakan hasil mekanisme pengendalian Keuda. Kedua mekanisme tersebut harus selalu diupayakan agar dapat terlaksana secara efisien dan efektif. Manajemen Pemda, dalam hal ini, memerlukan instrumen berupa informasi keuangan yang memadai dan andal agar dapat digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan yang rasional dalam mekanisme perencanaan dan pengendalian Keuda. Informasi keuangan tersebut tidak saja diperlukan untuk keperluan manajemen (internal) Pemda, melainkan juga untuk memenuhi keperluan pihak di luar manajemen (eksternal) Pemda dalam rangka pertanggungjawaban dan evaluasi kinerja.
Untuk menghasilkan informasi keuangan yang memadai dan andal, diperlukan sistem akuntansi Keuda yang dapat memenuhi kebutuhan pihak internal dan eksternal Pemda. Sistem akuntansi Keuda pada dasarnya berisi ketentuan yang mengatur sistem dan prosedur akuntansi yang mencakup pengorganisasian formulir, catatan dan laporan keuangan oleh unit-unit organisasi Pemda. Sistem akuntansi Keuda juga mencakup sistem dan prosedur pengurusan administratif dan kebendaharawanan dalam rangka mekanisme pengelolaan Keuda yang mengakibatkan bertambah dan atau berkurangnya sumber-sumber ekonomis Daerah yang berupa uang, barang atau jasa. Sistem akuntansi Keuda yang baik disamping akan menghasilkan informasi keuangan yang memadai dan andal untuk pertanggungjawaban dan evaluasi kinerja, dimaksudkan pula untuk meningkatkan keamanan sumber-sumber ekonomis yang dikelola oleh Pemda dan meningkatkan efisiensi biaya pengurusan administratif dan kebendaharawanan dalam rangka pengelolaan Keuda. Penyusunan Sistem akuntansi Keuda harus mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan manajemen Pemda yang akan melaksanakannya.

2.3. Tahapan Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan sistem informasi adalah proses memodifikasi atau mengubah bagian-bagian atau keseluruhan sistem informasi. Menurut Burch, dkk (1991), hal penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan sistem informasi adalah manusia. Pernyataan ini diperkuat oleh Baronas, dkk. (1988) bahwa apabila suatu informasi mengalami kegagalan, salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan sistem informasi itu memenuhi harapan stakeholder yang meliputi : analis sistem, pemakai akhir, sponsor dan pelanggan. Dengan demikian untuk mengurangi resiko kegagalan sistem informasi dibutuhkan kemampuan memprediksi outcome dari upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan sistem informasi. Prediksi lebih awal ini dapat dibuat dalam tahap-tahap proyek pengembangan sistem informasi (Ginzberg, 1981).
Setiap proyek pengembangan sistem akan melalui siklus hidup pengembangan sistem SDLC(Sistem Development Life Cycles). Pendekatan dengan SDLC ini biasanya digunakan oleh divisi sistem informasi untuk memberikan pengertian yang jelas tentang apa yang seharusnya disertakan dalam pengembangan suatu sistem. Pendekatan dengan SDLC ini biasanya digunakan oleh divisi sistem informasi untuk memberikan pengertian yang jelas tentang apa yang seharusnya disertakan dalam pengembangan suatu sistem. Tahapan ini meliputi feasibility assessment, information analysis, System design, Program development, Procedure development, Conversion dan terakhir adalah tahap Operation and maintenance.

2.4. Partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi

Penelitian tentang partisipasi pengguna dalam pengembangan sistem informasi telah banyak dilakukan. Dalam pengembangan sistem informasi peranan pengguna merupakan peranan yang sentral dalam pengembangan sistem informasi. Faktor partisipasi pengguna secara umum dari berbagai hasil riset memberikan kontribusi positif terhadap keberhasilan pengembangan sistem. Hasil penelitian yang dipaparkan baik oleh McKeen et al. (1994), Doll dan Deng (2001), Guimaraes et al. (2003) serta Suryaningrum (2003) menemukan bahwa partisipasi pengguna merupakan variabel yang efektif yang menentukan kepuasan pengguna, keberhasilan sistem maupun kualitas sistem. Penggunaan ketiga terminology variabel ini (kepuasan pengguna, keberhasilan sistem dan kualitas sistem) seringkali rancu. Seringkali kepuasan pengguna dianggap sama dengan kualitas sistem, atau bila tidak kepuasan pengguna digunakan untuk mengukur kualitas sistem.
Guimaraes et al. (2003) menyatakan bahwa penggunaan kepuasan pengguna untuk mengukur kualitas sistem justru akan menyebabkan penilaian yang subyektif tentang pengertian kualitas sistem. Kepuasan pengguna lebih menyangkut pandangan pengguna terhadap sistem informasi, tetapi bukan pada aspek kualitas teknik sistem yang bersangkutan. Atau dengan kata lain kepuasan pengguna lebih mengukur persepsi apa yang disediakan oleh sistem informasi daripada memberi informasi tentang kapabilitas fungsional sistem informasi yang bersangkutan. Alasan inilah yang kemudian mendasari Guimaraes et al. (2003) untuk tidak menempatkan variabel kepuasan pengguna dalam risetnya ini.
Meta analisis yang dilakukan oleh Hwang dan Thorn (1999) menyimpulkan bahwa partisipasi partisipasi pengguna mempunyai hubungan yang sangat signifikan dengan keberhasilan sistem. Artinya dalam konteks tidak langsung adanya partisipasi pengguna merupakan upaya untuk mencapai kepuasan pengguna agar keberhasilan dalam pengembangan sistem dapat dicapai. Doll dan Deng (2001) menyatakan bahwa partisipasi pengguna merupakan faktor penting yang harus dipenuhi. Wawancara, survey, identifikasi kebutuhan pengguna akan dilakukan secara intens untuk memperbaiki kualitas keputusan desain sistem informasi. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kepuasan pengguna yang pada gilirannya akan menyebabkan keberhasilan pengembangan sistem. McKeen et al. (1994) sebenarnya dalam awal penelitiannya memaparkan model dengan variabel dependen keberhasilan sistem. Namun berdasarkan kajian atas berbagai hasil riset, mereka menyimpulkan bahwa dalam pengembangan sistem informasi variabel kepuasan pengguna merupakan variabel yang dominan yang mempengaruhi keberhasilan sistem informasi. Alasan inilah yang kemudian mendasari mengapa model yang dikembangkan mencoba menarik hubungan antara partisipasi pengguna dengan kepuasan pengguna, bukan dengan keberhasilan sistem.
Hasil penelitian Guimaraes et al. (2003) secara eksplisit mendukung meta analisis yang dilakukan oleh Hwang dan Thorn (1999). Partisipasi merupakan variabel yang sangat dominan terhadap kualitas sistem. Dalam hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai dalam pemanfaatan sistem informasi akuntansi terdapat variabel moderasi yang mempengaruhi hubungan tersebut. Teori kontingensi menjelaskan bagaimana hubungan berbagai variabel yang dapat memoderasi hubungan antara partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam penggunaan sistem informasi.

2.5. Teori Kontinjensi dalam Hubungan Partisipasi Pemakai Terhadap Kepuasan Pemakai
Diperlukannya partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi telah diakui secara luas dalam literatur. Partisipasi merupakan perilaku, pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan oleh pemakai selama proses pengembangan sistem informasi (Barki dan Hartwick, 1994). Keduanya membedakan user involvement dengan user participation. User participation sebaiknya lebih digunakan bila berkaitan dengan perilaku dan aktifitas pemakai dalam proses pengembangan sistem informasi. Dinyatakan pula bahwa pengukuran perilaku pemakai dan aktifitas harus dipertimbangkan sebagai pengukur user participation, bukan user involvement (Barki dan Hartwick, 1994; Baroudi et al, 1986; Doll dan Torzadeh, 1990; Franz dan Robey, 1986). Partisipasi pemakai digunakan untuk menunjukkan intervensi personal yang nyata pemakai dalam pengembangan sistem informasi, mulai dari tahap perencanaan, pengembangan sampai pada tahap implementasi sistem informasi. Menurut Mumford (1974) dalam Tait dan Vessey (1988), ada tiga jenis partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi, yaiut partisipasi konsultatif, representatif dan konsensus.
Adanya partisipasi pemakai diharapkan dapat meningkatkan penerimaan sistem oleh pemakai, yaitu dengan mengembangkan harapan yang realitas terhadap kemampuan sistem, memberikan sarana bargaining dan pemecahan konflik seputar masalah perancangan sistem serta memperkecil adanya resistance to change dari pemakai terhadap informasi yang dikembangkan (Muntoro, 1994). Oleh karena itu, partisipasi pemakai dalam aktifitas pengembangan sistem diharapkan akan meningkatkan komitmen dan keterlibatan pemakai sehingga pemakai dapat menerima dan menggunakan sistem informasi yang dikembangkan dan akhirnya dapat meningkatkan kepuasan pemakai.
Teori kontijensi berpendapat bahwa desain dan penggunaan sistem pengendalian adalah kontijen dalam konteks setting operasional. Hal ini berarti teori kontijensi itu sendiri tidak mempunyai content tertentu, melainkan hanyalah sebuah kerangka untuk pengaturan pengetahuan dalam bidang tertentu. Maka bila kita akan bertumpu pada teori kontijensi sebagai dasar untuk pengembangan teori yang berkaitan dengan pengaruh partisipasi pemakai pada keberhasilan sistem, kita harus bertumpu pada teori kontijensi yang dibuat dari area disiplin ilmu yang lain, juga dari penelitian sebelumnya dalam sistem informasi (Tait dan Vessey. I, 1988)
Teori kontijensi timbul untuk merespon pendekatan universalistik yang berpendapat bahwa aplikasi disain pengendalian optimal untuk semua perubahan dalam semua kondisi. Jadi, teori kontijensi timbul untuk merespon pendekatan universalistik, yang dalam hal ini menyatakan bahwa partisipasi pemakai berpengaruh terhadap kepuasan pemakai, dimana dalam kenyataannya pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dimoderasi oleh beberapa faktor kontijensi. Dari sekian banyak faktor kontijensi yang diyakini berpengaruh pada hubungan partisipasi dan kepuasan pemakai, diangkat lima faktor kontijensi dalam penelitian ini, yaitu :
1. Dukungan Manajemen Puncak
Cerullo (1980) dalam Choe (1996) menjelaskan bahwa Dukungan manajemen puncak meliputi penyusunan sasaran atau penelitian tujuan, mengevaluasi usulan proyek pengembangan sistem informasi, mendefinisikan informasi dan pemprosesan yang dibutuhkan, melakukan review program dan rencana pengembangan sistem informasi. Menurut Muntoro (1994), dukungan menajemen puncak tidak hanya penting untuk alokasi sumber daya yang diperlukan, melainkan memberikan strong signal bagi karyawan bahwa perubahan yang dilakukan merupakan sesuatu yang penting. Vanlommel dan DeBrabander (1975) mengemukakan bahwa hubungan antara partisipasi dan kepuasan pemakai dipengaruhi oleh dukungan manajemen puncak.
2. Komunikasi Pemakai – Pengembang
Menurut Churman dan Schainblatt (1965) dalam McKeen dkk. (1994), hubungan antara pemakai dan pengembang selalu simbiotik. Pemakai mempunyai informasi dan pemahaman yang lengkap tentang dinamika lingkungan bisnis, dan pemakai perlu menyampaikan pemahamannya kepada pengembang untuk selanjutnya oleh pengembang ditransformasikan kedalam sistem informasi yang akan dikembangkan. DeBrabander dan Thier (1984) mengemukakan adanya hubungan yang signifikan antara komunikasi yang efektif dan kesuksesan pengembangan sistem. Komunikasi pemakai – pengembang dapat mempengaruhi kepuasan pemakai.
3. Kompleksitas Tugas
Kompleksitas dalam proses pengembangan sistem memegang peranan yang signifikan dalam hubungan antara partisipasi dan kesuksesan sistem, seperti yang diungkapkan DeBrabandar (1971), McKeen (1994), menyimpulkan bahwa kompleksitas tugas merupakan variabel moderasi pada hubungan antara partisipasi dan kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
4. Kompleksitas Sistem
Menurut Chandrarin dan Indriantoro (1997) kompleksitas sistem berpengaruh kecil sekali (quasi moderator) terhadap hubungan partisipasi dan kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi. Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Restuningdiah (1999).
5. Pengaruh Pemakai
Menurut Doll dan Torkzadeh (1989) tanpa adanya pengaruh yang cukup untuk melakukan perubahan serta untuk mempengaruhi hasil yang ada, maka pemakai sistem informasi hanyalah melihat partisipasi mereka sebagai suatu pemborosan waktu. McKeen et al. (1994) berargumentasi bahwa bila pengaruh pemakai diabaikan, maka hubungan antara partisipasi pemakai dan kepuasan pemakai sistem informasi diperkirakan akan menjadi lemah, dan sebaliknya.


2.6. Pengembangan Hipotesis

Berikut hipotesis yang diajukan peneliti yang dibangun berdasarkan fenomena dan teori yang dipaparkan sebelumnya:

H 1 : Partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakai.
H 2 : Dukungan Manajemen puncak memoderasi pengaruh partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
H 3 : Komunikasi pemakai – pengembang memoderasi pengaruh partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi
H 4 : Kompleksitas tugas memoderasi pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
H 5 : Kompleksitas sistem memoderasi pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
H 6 : User Influence memoderasi pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.

III. Metode Penelitian

Responden penelitian ini adalah pegawai di lingkungan 5 pemerintahan daerah Sumatera Selatan yang meliputi pemerintahan daerah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintahan Kota Palembang, Pemerintahan Kota Prabumulih, Pemerintahan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Musi Banyu Asin. Pegawai yang menjadi responden adalah orang yang terlibat secara langsung dalam pemanfaatan sistem informasi yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah. Dalam hal ini peneliti tidak membedakan antara pegawai yang tetap maupun honorer. Berdasarkan data yang diperoleh dari objek penelitian, total pegawai bagian keuangan yaitu sebanyak 351 pegawai. Pegawai yang menjadi responden penelitian ini adalah sebanyak 115 karyawan. Dengan demikian respon rate pengembalian kuesioner adalah sebesar 71,30% (82/115). Dari jumlah tersebut, kuesioner yang kembali hanya sebanyak 82 kuesioner, sedangkan kuesioner yang dapat diolah hanya sebanyak 68 kuesioner.
Alat analisis yang digunakan untuk menguji Hipotesis 1 digunakan model regresi linier sederhana (Simple Linier Regression). Persamaan statika yang digunakan adalah : Y = a + bx + e, dimana Y = Kepuasan Pemakai, a = Konstanta, b = Koefisien regresi, x = Partisipasi pemakai, dan e = Variabel pengaruh yang lain. Sedangkan H2 – H5 diuji dengan MRA (Moderated Regression Analysis). MRA merupakan bentuk regresi yang dirancang secara hirarki untuk menentukan hubungan antara dua variabel yang dipengaruhi oleh variabel moderating (Nunnaly dan Berstein, 1994). Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah normalitas, tidak terjadi autokorelasi, multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner serta pengujian terhadap asumsi klasik menunjukkan data telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.1. Hasil Uji Hipotesis

Hipotesis 1 diuji dengan menggunakan analisis regresi linier. Pengujian hipotesis 2 sampai dengan 6 dilakukan dengan menggunakan analisis Moderated Regression Analisys (MRA). Tampilan hasil output SPSS analisis regresi linier maupun MRA dapat dilihat pada table 1.
Table 1
Hasil Analisis Regresi Linier dan
Hasil Moderated Regression Analisys (MRA)
Hipo-tesis Persamaan Regresi Nilai F R square Konfirmasi Hipotesis
H1 KP= a + b1PP
KP=28,527+0,771PP 12,607
(0,001) 0,148 Didukung
H2 KP= a+b1PP+b2DMP+b3PP*DMP
KP=31,428-1,530PP-0,140DMP+0,099PP*DMP 8,230 (0,000) 0,245 Didukung
H3 KP= a + b1PP + b2KoP+b3PP*KoP
KP=32,136-0,717PP-0,268KoP+0,128PP*KoP 6,020 (0,001) 0,184 Tidak Didukung
H4 KP= a + b1PP+b2KT+b3PP*KT
KP=31,688+0,010PP-0,200KT+0,049PP*KT 4,439 (0,007) 0,133 Tidak Didukung
H5 KP= a + b1PP+b2KS+b3PP*KS
KP=30,308-0,982PP-0,052KS+0,081PP*KS 6,554 (0,001) 0,199 Tidak Didukung
H6 KP= a + b1PP+b2PeP+b3PP*PeP
KP=57,455-3,306PP-4,391PeP+0,618PP*PeP 7,315 (0,000) 0,220 Didukung
Sumber: Data Olahan

a. Hasil Uji Hipotesis 1
Dari output analisis regresi pada table 1, diperoleh hasil bahwa variabel partisipasi pemakai berpengaruh terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi, dengan koefisien determinasi sebesar 0,148. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pemakai berpartisipasi dalam pengembangan sistem informasi, semakin tinggi pula kepuasan pemakai. Dengan demikian, maka hasil analisis regresi dapat mendukung hipotesis 1.
Temuan penelitian ini mendukung hasil penelitian Doll dan Torkzadeh (1989), Kappelman dan McLean (1991), McKeen et al. (1994), Choe (1996), Chandrarin dan Indriantoro (1997), Setyaningsih dan Indriantoro (1998) dan Restuningdiah (1999). Temuan ini juga membuktikan bahwa partisipasi pemakai hanya berpengaruh kecil yaitu 15% yang memperkuat temuan peneliti-peneliti sebelumnya. Perlu ditelusuri kemungkinan variabel lain yang berpengaruh pada kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.

b. Hasil Uji Hipotesis 2 sampai Hipotesis 6
Untuk kepentingan uji interaksi, perlu disiapkan data interaksi antara variabel partisipasi dengan masing-masing variabel moderating. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel dukungan manajemen puncak dinyatakan dalam variabel Moderat¬¬_1. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel komunikasi pemakai-pengembang ditunjukkan dalam variabel Moderat_2. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel kompleksitas tugas ditampung dalam variabel Moderat_3. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel kompleksitas sistem disimbolkan dengan variabel Moderat_4. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel pengaruh pemakai disebut variabel Moderat_5.
Hasil pengujian Hipotesis 2 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,245, hal ini berarti 24,5% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independent partisipasi, dukungan manajemen puncak dan moderat_1. Selebihnya sebesar 75,5% (100%-24,5%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 8,230 dengan tingkat signifikasnsi 0,000. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Dukungan Manajemen Puncak dan Moderat_1 secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independent yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Dukungan Manajemen Puncak tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -1,530 dengan tingkat signifikansi 0,089 dan variabel DMP memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,140 dengan tingkat signifikansi 0,456. Sedangkan variabel Moderat_1 yang merupakan interaksi antara PP dengan DMP secara signifikan berpengaruh terhadap KP. Variabel Moderat_1 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,099 dengan tingkat signifikansi 0,010. Dapat disimpulkan bahwa variabel DMP merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai. Dengan demikian Hipotesis 2 terdukung.
Hasil pengujian Hipotesis 3 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,184, hal ini berarti 18,4% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independen partisipasi, komunikasi pemakai pengembang dan moderat_2. Selebihnya sebesar 81,6% (100%-18,4%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 6,020 dengan tingkat signifikasnsi 0,001. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Komunikasi Pemakai Pengembang dan Moderat_2 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Komunikasi Pemakai Pengembang tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -0,717 dengan tingkat signifikansi 0,464 dan variabel KoP memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,268 dengan tingkat signifikansi 0,603. Sedangkan variabel Moderat_2 yang merupakan interaksi antara PP dengan KoP tidak berpengaruh signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_2 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,128 dengan tingkat signifikansi 0,159. Dapat disimpulkan bahwa variabel KoP bukan merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai. Dengan demikian Hipotesis 3 tidak terdukung.
Hasil pengujian Hipotesis 4 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,133, hal ini berarti 13,3% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independent partisipasi, kompleksitas tugas dan moderat_3. Selebihnya sebesar 86,7% (100%-13,3%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 4,439 dengan tingkat signifikasnsi 0,007. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Kompleksitas Tugas dan Moderat_3 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Kompleksitas Tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter 0,010 dengan tingkat signifikansi 0,995 dan variabel KT memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,200 dengan tingkat signifikansi 0,786. Sedangkan variabel Moderat_3 yang merupakan interaksi antara PP dengan KT tidak berpengaruh signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_3 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,049 dengan tingkat signifikansi 0,633. Dapat disimpulkan bahwa variabel KT bukan merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai. Dengan demikian Hipotesis 4 tidak terdukung
Hasil pengujian Hipotesis 5 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,199, hal ini berarti 19,9% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independent partisipasi, kompleksitas sistem dan moderat_4. Selebihnya sebesar 80% (100%-19,9%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 6,554 dengan tingkat signifikasnsi 0,001. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Kompleksitas Sistem dan Moderat_4 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Kompleksitas Sistem tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -0,982 dengan tingkat signifikansi 0,284 dan variabel KS memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,052 dengan tingkat signifikansi 0,847. Sedangkan variabel Moderat_4 yang merupakan interaksi antara PP dengan KS tidak berpengaruh signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_4 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,081 dengan tingkat signifikansi 0,082. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel KS bukan merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai Dengan demikian Hipotesis 5 tidak terdukung.

Hasil pengujian Hipotesis 6 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,220, hal ini berarti 22% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independen partisipasi, pengaruh pemakai dan moderat_5. Selebihnya sebesar 78% (100%-22%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 7,315 dengan tingkat signifikasnsi 0,000. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Pengaruh Pemakai dan Moderat_5 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Pengaruh Pemakai berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -0,306 dengan tingkat signifikansi 0,026 dan variabel PeP memberikan nilai koefisien parameter sebesar -4,391 dengan tingkat signifikansi 0,006. Sedangkan variabel Moderat yang merupakan interaksi antara PP dengan PeP berpengaruh secara signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_5 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,618 dengan tingkat signifikansi 0,006. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel PeP merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai Dengan demikian Hipotesis 6 terdukung.

4.2. Pembahasan

Dukungan terhadap Hipotesis 1 yang menguji pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai menunjukkan bahwa dalam lembaga pemerintahan memang dibutuhkan peran dari karyawan dalam proses pengembangan sistem. Meskipun pengaruh pemakai dalam penelitian ini hanya sebesar 15%, hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pemakai berpartisipasi dalam pengembangan sistem informasi maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan pemakai. Dengan demikian, pemerintah daerah perlu melibatkan karyawan-karyawannya terutama bagian Penganggaran dan Pembukuan dalam pengembangan sistem informasi akuntansi. Diharapkan keterlibatan mereka mampu mengeliminasi keluhan-keluhan yang sering terjadi selama ini.
Dukungan manajemen puncak yang berinteraksi dengan partisipasi pemakai memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan pemakai dalam memanfaatkan sistem informasi akuntansi pada lembaga pemerintahan. Dukungan terhadap Hipotesis 2 ini menunjukkan bahwa dukungan dari pemerintahan pusat maupun otoritas yang lebih tinggi mampu meningkatkan kepuasan pengguna sistem. Hal ini dapat dilihat pada keterlibatan pemerintah pusat dalam perencanaan sistem dan evaluasi usulan proyek pengembangan sistem informasi akuntansi. Selain itu pemerintah juga memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam pemanfaatan sistem informasi. Dukungan tersebut antara lain adalah menyiapkan anggaran dan melibatkan pihak ketiga dalam memberikan pelatihan dan bimbingan teknis kepada para pengguna sistem. Selain itu pemerintahan pusat dan daerah secara terus menerus melakukan pengawasan dalam upaya meningkatkan kepuasan pengguna sistem. Dalam jangka panjang diharapkan dapat diperoleh efisiensi dan akurasi yang tinggi dalam penyusunan laporan keuangan pemerintahan.
Keterlibatan pengembang dalam pengembangan sistem informasi akuntansi keuangan daerah tidak dapat dihindarkan. Selama ini sistem yang ada selalu melibatkan pihak ketiga, baik secara swakelola maupun yang ditunjuk oleh pemerintah pusat secara langsung. Hipotesis 3 menyatakan bahwa interaksi antara partisipasi pemakai dengan komunikasi pemakai pengembang mempengaruhi kepuasan pemakai sistem informasi. Hasilnya secara simultan menunjukkan bahwa partisipasi pemakai, komunikasi pemakai-pengembang dan interaksi keduanya berpengaruh sebesar 18,4%. Namun jika dilihat secara parsial variabel interaksi antara PP dengan KoP tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini kondisi pemanfaatan sistem di pemerintahan masih satu arah. Pemakai dan pengembang belum leluasa untuk mentransformasikan informasi yang diperlukan untuk pengembangan sistem. Kondisi yang ada menunjukkan bahwa karyawan yang terlibat langsung dengan sistem untuk penyusunan anggaran dan laporan keuangan masih sebatas menerima saja sistem yang diberikan. Belum terjadi komunikasi dua arah yang ideal diantara pemakai dan pengembang. Hal ini terjadi karena sistem yang dikembangkan merupakan aplikasi dari peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan secara jamak. Perubahan sistem biasanya mengikuti perubahan peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah.
Hipotesis 4 dan hipotesis 5 dalam penelitian ini tidak didukung. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Tugas (H4) dan Kompleksitas Sistem (H5) tidak berpengaruh secara signifikan dengan Kepuasan Pemakai. Pada kondisi pemerintahan yang kaku dengan peraturan, maka tugas yang diterima oleh seorang karyawan adalah sebuah tanggungjawab yang tidak bias dinegosiasi. Tugas yang diterima baik bersifat kompleks maupun sederhana harus diselesaikan tepat pada waktunya. Begitu pula dengan sistem yang ada, sistem dibuat sedemikian rupa dengan mengikuti peraturan pengelolaan keuangan daerah. Semakin detai dan rumit peraturan yang mengikat, maka semakin kompleks pula sistem yang dihasilkan. Dengan demikian, pada seting organisasi pemerintahan kompleksitas tugas dan kompleksitas sistem tidak dapat berinteraksi dengan partisipasi dalam meningkatkan kepuasan pemakai sistem informasi akuntansi keuangan daerah.
Hasil penelitian ini mendukung Hipotesis 6 yang menyatakan bahwa interaksi antara partisipasi pemakai dengan pengaruh pemakai dapat berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi. Hal ini menunjukkan bahwa bila pemakai dapat mempengaruhi keputusan yang berkaitan dengan pengembangan sistem, maka partisipasi mereka menjadi lebih bernilai. Namun jika pengaruh pemakai diabaikan, maka hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai menjadi lemah dan sebaliknya. Hasil ini mendukung penelitian McKeen et al. (1994). Dalam lembaga pemerintahan, pengguna sistem akan melihat partisipasi mereka hanyalah sebagai suatu yang sia-sia jika partisipasi tersebut tidak memberikan perubahan seperti yang diinginkan.







V. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka dalam penelitian ini diperoleh simpulan sebagai berikut:
a. Pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pemanfaatan sistem informasi keuangan daerah di pemerintahan daerah Sumatera Selatan hanya sebesar 15% saja. Hal ini menunjukkan bahwa banyak faktor-faktor lain (sebesar 85%) yang mempengaruhi kepuasan pemakai sistem informasi akuntansi keuangan daerah.
b. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Dukungan Manajemen Puncak/Pengaruh Pemakai berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai sistem informasi keuangan daerah. Sedangkan interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Komunikasi Pemakai Pengembang/Kompleksitas Sistem / Kompleksitas Tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai sistem informasi keuangan daerah.
c. Perbedaan hasil penelitian ini dengan hasil penelitian sebelumnya mungkin saja karena karakteristik organisasi sektor publik (pemerintahan) berbeda dengan seting organisasi penelitian sebelumnya yang merupakan organisasi privat.
Dari simpulan yang telah diperoleh, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:
a. Kepuasan karyawan yang terlibat langsung dengan pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah dapat ditingkatkan dengan dilibatkannya mereka untuk berpartisipasi dalam pengembangan sistem.
b. Dukungan manajemen puncak, dalam hal ini pemerintahan yang memiliki otoritas lebih tinggi hendaknya lebih meningkatkan dukungan mereka terhadap pengembangan sistem informasi keuangan daerah. Pemerintah daerah diharapkan lebih mendengarkan aspirasi pemakai sistem secara langsung agar kepuasan kerja karyawan menjadi lebih tinggi.
c. Meskipun partisipasi pemakai berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakai. Namun pengaruh tersebut cukup kecil (15%), sehingga masih banyak faktor –faktor lain yang dapat diteliti oleh peneliti selanjutnya.

Daftar Pustaka
Barki, H dan J., Hatrwick. 1994. Measuring User Participation, User Involvement, and User Attitude. MIS Quarterly. March.
Baronas, A.M.K., dan M.R., Louis. 1988. Restoring a Sense of Control During Implementation: How User Involvement Leads to Sistems Acceptance. MIS Quarterly. March.
Baroudi, J.J., Olson, M.H, dan Ives, B. 1986. An Empirical Study of The Impact of User Involvement on Sistem Usage and Information Satisfaction. Communication of the ACM. March.
Bodnar, G.H., dan William S., Hopwood. 1995. Accounting Information Sistems. Prentice Hall International. 6th. Ed.
Burch, Jr. Jhon, Garry Grudnitski. 1991. Information Sistems: Theory and Practice. Jhon Wiley & Sons. 5th Ed.
Chandrarin, Grahita dan Nur Indriantoro. 1997. Hubungan antara Partisipasi dan Kepuasan Pemakai Dalam Pengembangan Sistem Berbasis Komputer: Suatu Tinjauan Dua Faktor Kontinjensi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 13. No. 1.
Choe, Jong-Min. 1996. The Relationship Among Performance of Accounting Information Sistems, Influence Faktors, and Evolution Level of Information Sistems. Journal of Management Information Sistem. Vol 12. No. 4. Spring.
DeBrabander, D dan G. Their. 1984. Succesfull Information Sistem Development in Relation to Situasional Faktors Which Affect Affective Communication Between MIS Users and EDP Spesialist. Management Science. Vol 12 No. 4 Spring.
Doll. W.J. dan G. Torkzadch. 1986. A Discrepancy Model of End-User Computing Involvement, and Usefulness of Information Sistem. Decision Sciences. Vol. 17 No. 4.
Doll, William dan Xiadong Deng. 2001. The Collaborative Use of Information Technology : End User Participation and Sistem Succes. Information Resources Management Journals. ABI/INFORM Global.
Domai, Tjahjanulin. 2002. Reinventing Keuangan Daerah (Studi Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah). Google.co.id.
Franz, C.R. dan D. Robey. 1986. Organizational Context, User Involvement and Usefulness of Information Sistem. Decision Sciences. Vol. 17 No. 4.
Ginnzberg, M.J. 1981. Early Diagnosis of Implementation Failure: Priopmising Result and Unanswered Questions. Management Sciences. Vol. 17 No. 4. April.
Guimaraes, Tor, Sandy D. Staples., dan James D McKeen. 2003. Empirically Testing Some Main-User Related Faktors for Sistem Development Quality. The Quality Management Journal. ABI/INFORM Global. Hal 39-55.
Hunton, J.E., dan H.P. Kenneth. 1994. A Framework for Investigating Involvement Strategies in Accounting Information Sistem Development. Behavioural Research in Accounting. Vol. 6.
Hwang, MI dan RG Thorn. 1999. The Effet of User Engagement of Sistem Succes. A Meta Analytical Integration of Research Findings. Information Mangement.
Ives, B., M.H. Olson., dan J.J., Baroudi. 1983. The Measurement of User Information Satisfaction. Communication of the ACM. October.
________dan Olson. 1984. User Involvment and MIS Succes: A Review Research. Management Science. ABI/INFORM Global.
Jones, Gareth R. 2003. Organization Theory. 3rd Edition. Prenctice Hall. New York.
Kappelman, L dan McLean. 1991. The Respective Roles of User Participation and User Involvement in Information Sistem Implementation Success. Proccedings of The International Conference on Information Sistem. New York. NY.
Lawrence, M dan L, Graham. 1993. Exploring Individual User Satisfaction Within User Led Development. MIS Quarterly. June.
Mardiasmo. 2002. Perencanaan Keuangan Publik Sebagai Suatu Tuntutan Dalam Pelaksanaan Pemerintahan Daerah yang Bersih dan Berwibawa. Makalah Seminar IAK-KASP. Jakarta
McDermott, J. 1987. Improving Productivity Through Technologycal Innovation. Merck Bulletin.
McKeen D.J.G. Tor dan C.W. James. 1994. The Relationship of User Participation and User Satisfaction: An Investigation of Four Contingency Faktors. MIS Quarterly. December.
Muntoro R.K. 1994. The Use of Organization Behavior Methods in The Development of Computerized Accounting Sistem in Indonesia: An Attitudial Survey. PhD. Dissertation. Accountancy Development in Indonesia Publication.
Primasari, Dona., Lego Waspodo dan Syaiful Rahman. 2008. Variabel Anteseden dan Konsekuensi Implementasi Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) (Studi Empiris pada Badan Koordinasi Wilayah Pembangunan Lintas Kabupaten / Kota Wilayah I Provinsi Jawa Tengah. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak. Mei.
Restuningdiah, Nurika. 1999. Pengaruh Partisipasi terhadap Kepuasan Pemakai dalam Pengembangan Sistem Informasi dengan Kompleksitas Tugas, Kompleksitas Sistem, dan Pengaruh Pemakai sebagai Variabel Moderating. Tesis. Magister Akuntansi. UGM. Yogyakarta.
Robey, D., dan D.L. Farrow. 1982. User Involvement in Information Sistem Development: A Conflict Model and Empirical Test. Management Science. January.
__________, Dana Forrow dan Charles R. Frans. 1989. Group Process and Conflict in Sistem Development. Management Science. ABI/INFORM Global.
Setianingsih, Sunarti dan Nur Indriantoro. 1998. Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak dan Komunikasi Pemakai-Pengembang terhadap Hubungan Partisipasi dan Kepuasan Pemakai dalam Pengembangan Sistem Informasi. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 1 No. 2.
Suryaningrum, Diah Hari. 2003. The Relationship Between User Participation and Sistem Succes: Study of Three Contingency Faktors on BUMN in Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi. Surabaya.
Szajna, Bernadette dan Richard W., Scamell. 1988. The Effect of Information Sistem User Expectation on Their Performance and Perception. MIS Quarterly. March.
Tait, P dan I., Vessey. 1988. The Effect of User Involvement on Sistem Success: A Contingency Approach. MIS Quarterly. March.
Tjai Fung Jen. 2002. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi Akuntansi. Journal Bisnis dan Akuntansi. Vol 4. No. 2.
Vanlommel, E., dan DeBander, B. 1975. The Organization of EDP Activities and Computer Use. Journal of Bussiness.

Peraturan dan Undang-Undang

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Undamg-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintaan Daerah.
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 tahun 2006.

Sumber:
Yusnaini. 2010. Pengaruh Partisipasi Pemakai Terhadap Kepuasan Pemakai Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah (SIAKD) pada Pemerintah Daerah Sumatera Selatan. Jurnal Keuangan dan Bisnis. Vol. 8 No. 01. Maret 2010. STIE MUSI Palembang.

Analisis Keinginan Bertransaksi Online Melalui Pendekatan Theory of Planned Behavior

ABSTRACT


This paper attempts to explain online transaction intentions from viewpoint of social psychology, using the well developed theory of planned behavior (TPB). The theory planned behavior can predict customer intention to online transaction. TPB is not only a cognitive psychology theory within an expectancy value framework, but also a social psychology theory for explaining human decision processes. TPB posits that an individual’s intentions at any given time are determined by three important factors: internal factors, such as the individual’s own attitude toward the behavior (ATT); external factors, such as the subjective norms (SN) that govern that behavior; and the factors of time and enhance, defined as perceived behavior control beliefs (PBC). In addition, it aims to describe factor of privacy, security, trust, risk and internet experience to intention online transaction.

Keywords: Privacy, Security, Trust, Internet experience, Intention, The Theory of Planned Behavior, Online transaction.



PENDAHULUAN
Semakin meluasnya penggunaan internet di seluruh pelosok bumi menjadikan batas-batas geografis seolah tak ada lagi. Hal yang sama tentunya dapat terjadi jika kita berbisnis melalui internet, misalnya menjual barang atau menawarkan jasa tertentu. Saat ini banyak orang yang menggunakan komputer dan internet untuk berbelanja. Aneka informasi yang diperoleh telah mengubah cara mereka bertransaksi berbagai macam barang atau jasa. Internet merupakan media untuk berkomunikasi antara perusahaan dengan konsumen.
Dengan menawarkan sesuatu secara online, entitas bisnis berpeluang mendapatkan klien ataupun pembeli dari berbagai penjuru dunia tanpa perlu berpindah-pindah tempat ataupun membuka banyak cabang di berbagai tempat. Keuntungan yang didapat berlipat ganda karena selain memperluas pangsa pasar juga dapat menghemat banyak biaya. Sebaliknya dengan adanya toko-toko online tentunya juga mempermudah para pembeli. Berbelanja barang melalui toko online memang mengasyikan. Selain menghemat waktu dan biaya transport jika harus mengunjungi langsung ke outlet atau tempat toko tersebut berada, pembeli juga dapat melihat beberapa toko berbeda di tempat yang berbeda secara berbarengan untuk melihat perbandingan harga yang ditawarkan. Namun hal ini menuntut customer harus lebih berhati-hati dalam bertransaksi karena semua barang yang ditawarkan hanya dapat dilihat secara visual.
Dalam setiap transaksi online, setiap website akan meminta identitas pribadi seperti nama pelanggan, alamat e-mail, nomor telepon, atau alamat surat. Pengguna sadar bahwa penjual berusaha menjejaki data seperti produk yang dibeli, metode pembayaran yang digunakan, nomor kartu kredit, pilihan produk dan sejarah transaksi dikumpulkan, disimpan dan dianalisis oleh sistem e-bisnis dan yang kemudian digunakan mengevaluasi perilaku pembelian. E-vendor menggunakan informasi ini untuk menjual, mempromosikan produk baru secara langsung melalui e-mail pribadi pelanggan. Ketika pelanggan kembali pada website yang pernah digunakan untuk melakukan pembelian, angka-angka kartu kredit dan alamat pengiriman sudah ada tersedia. Pengumpulan data pribadi untuk mengevaluasi kebutuhan pelanggan dan meningkatkan layanan, tetapi dalam penggunaan internet ancaman pelanggaran sanggat tinggi. Perpindahan data pribadi antar internet menjadi perhatian konsumen (Liu et al., 2004).
Potensi internet sebagai media pemasaran dan perdagangan telah banyak dibicarakan akhir-akhir ini, khususnya bagi para pemasar. Pembicaraan tersebut menghasilkan suatu pandangan mengenai e-commerce, khususnya perdagangan melalui internet, yang umumnya dike¬nal sebagai e-commerce, sebagai suatu bisnis dengan ber¬bagai kemungkinan (Rao et al., 1998). Menurut pandangan ini, e-commerce menawarkan sejumlah karakteristik nilai tambah baru, misalnya disebutkan bahwa suatu saat e-commerce akan menggantikan cara melakukan bisnis konvensional secara keseluruhan. Ramalan menunjukkan bahwa 20% dari selu¬ruh pembelanjaan di supermarket selama dekade berikutnya akan dila¬kukan melalui saluran elektronik (Burke, 1997). Harga yang lebih murah juga dihasilkan melalui e-commerce, salah satu alasannya adalah misalnya peng¬gunaan tempat yang lebih murah, yang dimungkinkan karena cara ini tidak memerlukan lokasi yang tersen¬tralisasi. Selain itu penggunaan se¬jumlah perantara juga dapat dikurangi (Peterson, 1997). Awalnya belanja melalui internet kurang diminati. Banyak alasan yang melatarbelakangi orang tidak tertarik untuk melakukan pembelian secara online diantaranya adalah faktor kepercayaan, dan keamanan.
Faktor penting lainnya adalah pengalaman menggunakan internet. Pengalaman menggunakan internet merupakan pertimbangan penting dalam melakukan pembelian secara online (Hoffman et al., 1999). Hoffman menemukan bahwa perhatian konsu¬men terhadap pengendalian infor¬masi pribadi ternyata meningkatkan pengalaman akan internet, sebalik¬nya perhatian pada hambatan fung¬sional untuk belanja secara online menurun. Pengguna internet yang belum berpengalaman, biasanya jarang bertransaksi secara online: 27% pengguna dengan pengalaman ku¬rang dari 6 bulan pernah bertransaksi sesuatu melalui internet, dibanding dengan 60% mereka yang berpenga¬laman 3 tahun lebih dalam menggunakan internet (Fox, 2000). Sebagai tambahan, pengguna baru lebih takut dengan masalah pencurian kar¬tu kredit (70%) dari pada pengguna internet berpengalaman (46%) (Fox, 2000).
The theory planned behavior (TPB) digunakan sebagai pendekatan untuk mengembangkan suatu kerangka adopsi e-commerce integratif (Ajzen, 1991). The theory planned behavior menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh niat. Niat dibentuk oleh sikap, norma subjektif dan kontrol prilaku. Sikap, terbentuk oleh kepercayaan. Niat adalah kesediaan konsumen untuk bertransaksi secara online. Tulisan ini berusaha untuk mengidentifikasi dan memaparkan faktor-faktor yang berperan menentukan kesediaan atau tujuan konsumen untuk bertransaksi secara online. Faktor-Faktor tersebut adalah kepercayaan, privasi, keamanan, pengalaman dan persepsi risiko.

TINJAUAN LITERATUR DAN PEMBAHASAN

The Theory of Planned Behavior
The theory planned behavior (TPB) (Azjen, 1985, 1991) merupakan pengembangan dari the theory reasoned action (TRA) (Azjen and Fishbein, 1980). Inti dari the theory planned behavior dan the theory reasoned action, adalah niat individu untuk melakukan perilaku tertentu. Dalam the theory reasoned action dan theory planned behavior, sikap terhadap perilaku dan norma subyektif pada perilaku dinyatakan mempengaruhi niat, tapi theory planned behavior memasukkan unsur kontrol perilaku yang dirasakan dalam mempengaruhi perilaku sebagai faktor tambahan yang mempengaruhi niat konsumen untuk bertransaksi secara online. Gambar 1 menunjukkan model perilaku yang prosesnya dapat dijelaskan oleh theory planned behavior.
Gambar 1
Model The Theory Planned Behavior (Azjen 1975)








Menurut the theory planned behavior pada gambar 1 tersebut, tindakan individu pada perilaku tertentu ditentukan oleh niat individu tersebut untuk melakukan perilaku. Niat itu sendiri dipengaruhi sikap terhadap perilaku, norma subyektif yang mempengaruhi perilaku, dan kontrol keperilakuan yang dirasakan. Menurut Azjen (1985), sikap terhadap perilaku merupakan evaluasi positif atau negatif dalam melakukan perilaku. Sikap terhadap perilaku menunjukkan tingkatan seseorang mempu¬nyai evaluasi yang baik atau yang kurang baik tentang perilaku tertentu. Norma subyektif menunjukkan te¬kanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan, sedangkan kontrol keperilakuan yang dirasakan menunjukkan mudahnya atau sulitnya seseorang melakukan tindakan dan dianggap sebagai cerminan penga¬laman masa lalu disamping halangan atau hambatan yang terantisipasi. The theory reasoned action juga telah digunakan pada banyak penelitian tentang sistem informasi, kebanyakan digunakan sebagai dasar dalam penelitian mengenai penerimaan pengguna dan model penerimaan teknologi (TAM) (Davis, 1989).
Kepercayaan
Lau dan Lee (1999) mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan individu untuk menggantungkan dirinya pada pihak lain dengan resiko tertentu. Kesediaan ini muncul karena adanya pemahaman individu tentang pihak lain yang didasarkan pada masa lalunya, adanya harapan pihak lain akan memberikan sumbangan yang positif (walaupun ada juga kemungkinan pihak lain memberikan sumbangan yang negatif). Literatur kepercayaan di identifikasi dari berbagai dimensi. Dari dimensi tersebut rasa kejujuran (kredibilitas) mengindikasikan kepastian konsumen dalam bisnis, ketulusan, kenyataan, dan janji (Gundlach dan Murphy, 1993). Gefen (2002) mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan untuk membuat dirinya peka ke dalam tindakan yang diambil oleh pihak yang dipercaya yang didasarkan pada keyakinan. Kepercayaan suatu multidimensi yang kompleks dan spesifik (McKnight dan Chervany, 2002). Sebagai tambahan manfaat untuk bisnis secara umum, kepercayaan telah ditunjukan untuk mempunyai arti penting. Sebagai contoh kepercayaan adalah satu faktor kritis dalam stimulan transaksi secara online.
Kepercayaan muncul hanya ketika mereka yang terlibat “dipastikan oleh pihak lainnya, mau dan bisa memberikan kewajibannya". Banyak konsumen tidak cukup mempercayai situs yang ada, untuk memberikan informasi pribadi mereka, dalam rangka melakukan transaksi (Hoffman et al., 1999). Kepercayaan telah digambarkan sebagai suatu tindakan kognitif (misalnya, bentuk pendapat atau prediksi bahwa sesuatu akan terjadi atau orang akan berperilaku dalam cara tertentu), afektif (misalnya masalah perasaan) atau konatif (misalnya masalah pilihan atau keinginan). Mereka yang setuju bahwa termasuk kognitif, tidak setuju jika kepercayaan adalah perhitungan rasional berbasis bukti yang tersedia, atau praktek/perilaku di luar alasan bersama-sama (Alpern, 1997). Banyak definisi yang ternyata tidak akurat. Kepercayaan jelas tidak hanya kepercayaan dimana suatu pihak memiliki keyakinan (walaupun setiap kepercayaan mungkin memiliki elemen kepercayaan seperti halnya kecenderungan orang untuk menempatkan tingkat keyakinan yang tinggi pada kepercayaannya).

Kepercayaan Konsumen pada Internet
Pengembangan hubungan yang tetap pada internet dipengaruhi dari berbagai sektor (Gunasekaran dan Love, 1999). Bagaimanapun pengaruh ini tidak menterjemakan ke dalam angka penjualan yang lebih tinggi melalui internet. Jelas bahwa dengan transaksi online konsumen tidak berinteraksi dengan fisik toko online, oleh karena itu konsumen tidak mampu untuk mengevaluasi secara efektif produk yang ditawarkan, atau untuk memeriksa identitas penjual. Pembayaran biasanya menggunakan kartu kredit sebelum menyerahkan barang atau jasa kemungkinan data keuangan dapat digunakan dengan curang atau produk tidak sesuai dengan yang dipesan. Untuk itu perlu ditambahkan dalam pembuatan keluhan/komplain perusahaan yang tidak mempunyai fisik toko atau kantor pusat di dalam negeri atau di luar negeri.
Privasi
Informasi privasi mengacu pada individu, kelompok, atau institusi untuk menentukan diri mereka sendiri dan bagaimana tentang luasnya informasi tentang apa yang dikomunikasikan pada orang lain (Malhotra et al., 2004). Perhatian informasi privasi mengacu pada suatu pandangan hubungan individu dalam konteks informasi privasi. Privasi dipengaruhi oleh kondisi ekternal seperti industri, budaya dan hukum. Bagaimanapun, suatu persepsi individu kondisi eksternal juga berbeda menurut karakteristik pribadi dan pengalaman masa lalu (Donaldson dan Dunfe, 1994). Oleh karena itu orang sering berbeda pendapat mengenai toko online dan penggunaan informasi pribadi mereka.
Konsep privasi dengan sendirinya tidak baru, biasanya digambarkan sebagai suatu kemampuan individu untuk mengendalikan informasi pribadi yang diperoleh (Galanxhi dan Fui-Hon, 2004). Terkait dengan privasi mempengaruhi aspek seperti distribusi atau non-authorized pengguna informasi pribadi (Wang et al., 1998). Pertumbuhan teknologi baru untuk mengolah kompleksitas informasi. Sebagai konsekuensi kecurigaan konsumen terus meningkat mengenai data pribadi mereka. Privasi secara instrumen bernilai sebab diperlukan pengembangan hubungan kepercayaan dan kedekatan pada waktu yang sama (Grung, 2006). Privasi diuji atas dasar kebenaran informasi. Privasi telah lama didefinisikan sebagai kebenaran seseorang untuk menjadi dirinya sendiri untuk mengendalikan aliran dan pemberitahuan informasi tentang orang lain atau dirinya sendiri (Warren dan Brandies, 1980).
Keamanan
Kejahatan dalam media internet berjumlah sangat besar serta memiliki bentuk yang beragam karena beberapa alasan. Pertama, identitas individu, atau organisasi dalam dunia internet mudah untuk dipalsukan, tetapi sulit dibuktikan secara hukum (Jarvenpaa dan Grazioly, 1999). Kedua, tidak membutuhkan sumber daya ekonomi yang besar untuk melakukan kejahatan dalam internet. Ketiga, internet menyediakan akses yang luas pada pengguna yang potensial menjadi korban. Keempat, kejahatan dalam internet, identitas pelaku tidak dikenal dan secara yuridis sulit mengejar pelaku. Rasa aman mungkin menggambarkan subyektif sebagai kemungkinan konsumen percaya bahwa informasi pribadi mereka (Private dan moneter) akan tidak dapat dilihat, dan berpindah tanpa persetujuan.
Kegiatan dalam e-commerce disamping memberikan keuntungan dalam bertransaksi secara online, disisi lain mengandung beberapa resiko diantaranya adalah, gangguan website yang diakibatkan oleh para hacker. Hacker memungkinkan untuk masuk, mengacak-acak dan sekaligus menjarah apa yang dirasakan menguntungan mereka. Aktivitas para hacker ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pencuri yang mengacak-acak dan mengambil barang milik kita. Dalam hal ini sangat penting diperlukan sistem keamanan yang mampu melindungi website dari gangguan para hacker. Masalah keamanan menjadi masalah yang cukup menentukan bagi para pengusaha e-commerce. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menciptakan sistem keamanan dari gangguan pelaku kejahatan yang ingin mengacaukan website adalah:
1. Membuat sistem cadangan yang selalu diaktifkan, jika sistem utama mengalami gangguan atau kerusakan yang diakibatkan oleh ulah hacker
2. Melakukan backup data pribadi, atau data kartu keredit, karena terkait dengan kepercayaan pelanggan sebagai basis utama yang mengkonsumsi layanan elektronik.
Pengalaman Menggunakan Internet
Peranan pengalaman juga telah diteliti dalam literatur sistem informasi dalam bidang penerimaan pengguna, the theory reasoned action dan the theory planned behavior telah diterapkan dalam pengembangan model penerimaan teknologi (TAM) Davis (1989). Szanja (1996) menyarankan bahwa bidang penelitian penting di masa datang tentang TAM adalah "menentukan nilai dan status komponen pengalaman". Da¬lam model TAM, kemudahan penggunaan dan kegunaan dipercaya bahwa sikap yang pada akhirnya menjadi niat perilaku untuk menggunakan. Selanjutnya TAM telah menghilangkan elemen sikap, se¬hingga keyakinan tentang kemu¬dahaan penggunaan dan kegunaan langsung membentuk niat (Venkatesh dan Davis, 1996). Venkatesh dan Davis (1996), dalam pengembangan TAM yang memfo¬kuskan pada variabel awal dari kemudahan penggunaan, secara teoritis menyatakan bahwa pengalaman langsung dengan perangkat lunak menjadi perantara dalam hubungan langsung antara tujuan penggunaan dan kemudahan penggunaan. Tujuan peng¬gunaan dari suatu sistem adalah ukuran tentang bagaimana mudah¬nya sistem tersebut digunakan, diturunkan dengan membandingkan apa yang diperlukan agar seorang ahli menyelesaikan suatu tugas dengan menggunakan sistem dengan apa yang diperlukan oleh orang awam untuk menyelesaikan tugas yang sama dengan menggunakan sistem yang sama. Venkatesh dan Davis (1996) memperkirakan bahwa tujuan penggunaan akan menjadi peramal dari kemudahan penggu¬naan, hanya jika seorang individu telah memiliki pengalaman langsung dengan perangkat lunak. Mereka menemukan dukungan bagi ramalan mereka. Pengalaman lang¬sung dioperasionalisasikan dalam perco¬baan mereka dalam pelatihan untuk suatu paket perangkat lunak. Dalam penelitian terbaru, antecedent dari kemudahan penggunaan dalam TAM. Venkatesh (2000) mene¬mukan bahwa pengalaman tidak memerankan peranan sebanyak peranannya seperti yang diharapkan dalam menjelaskan varian dalam kemudahan penggunaan. Kepercayaan pada general sistem¬ independen tentang komputer lebih menjadi peramal yang lebih kuat dari kemudahan penggunaan daripada pengalaman, selama tiga periode.
Dengan menggunakan theory planned behavior, Taylor dan Todd (1995) menyelidiki perbedaan anta¬ra mahasiswa yang berpengalaman dan tidak berpengalaman dari sebuah pusat komputer. Mereka menemukan hubungan yang lebih kuat antara perilaku niat dan perilaku aktual bagi pemakai yang berpengalaman, dibanding pemakai yang tidak berpengalaman. Mereka juga menemukan bahwa niat dari pemakai yang tidak berpengalaman lebih mudah diramalkan oleh variabel awal daripada kasus untuk pemakai yang berpengalaman.
Pengguna internet yang berpe¬ngalaman, waktu yang mereka habiskan untuk online lebih banyak karena keahlian yang mereka peroleh melalui pengalaman, seharusnya yakin bahwa internet lebih bisa dipercaya dari pada mereka yang kurang berpengalaman. Pengguna berpengalaman seharusnya telah belajar bagaimana menghindari perilaku yang tidak dapat dipercaya dan bagaimana menggunakan situs dengan lebih aman, seperti halnya warga kota yang mengetahui bagian-bagian kota dan tempat yang tidak aman yang harus dihindari. Intinya adalah bahwa kepercayaan muncul dengan tingkat pengetahuan tertentu, dimana pengetahuan diperoleh dari pengalaman.
Persepsi Risiko
Persepsi risiko dipandang sebagai ketidakpastian dihubungkan dengan hasil dari suatu keputusan (Sitkin dan Pablo, 1992). Dalam literatur e-commerce, ada dua kategori risiko yaitu: risiko transaksi dan risiko produk (Chang et al., 2005). Risiko produk mengacu pada ketidakpastian pembelian akan memenuhi penerimaan pengukuran dalam hasil atau tujuan pembelian. Risiko Transaksi adalah ketidakpastian sesuatu yang tak terduga dan kurang baik sepanjang proses transaksi.
Risiko transaksi termasuk pembuktian, privasi, keamanan. Risiko transaksi mengacu pada ketidakpastian identitas pembuktian penjual tidak diungkapkan. Risiko privasi mengacu pada kemungkinan pencurian informasi pribadi (Pavlou, 2003). Orang dapat dipercaya setia berhubungan dengan keselamatan data yang dipancarkan Internet (Chang et al., 2005).

Niat Bertransaksi secara online
E-commerce dalam tulisan ini digambarkan sebagai hubungan pertukaran secara online antar konsumen dan toko online, atau web vendor. Mempertimbangkan niat untuk bertransaksi secara online, yaitu membeli barang atau jasa secara online, demikian memanfaatkan Business to Consumer (B2C) model e-commerce. Satu hal penting dalam penelitian sistem informasi adalah bagaimana dan mengapa individu menerima dan mengadopsi teknologi informasi baru (Agarwal dan Karahanna, 2000). Pada tingkatan individu, pemakaian informasi teknologi dipelajari dengan meneliti peran niat sebagai peramal perilaku (Liu et al., 2004; Malhotra et al., 2004). Penelitian ini fokus pada faktor penentu niat seperti sikap dan pengaruh sosial. Penelitian ini didasarkan pada model psikologi sosial seperti, the theory reasoned action (Ajzen dan Fishbein 1980) dan the theory planned behavior (Ajzen 1985; 1991). Niat, sebagai faktor penentu perilaku telah ditetapkan di dalam acuan sistem informasi dan disiplin lain (Ajzen 1991; Taylor dan Todd 1995). Menurut the theory reasoned action, niat meramalkan perilaku. Niat dibentuk oleh sikap dan norma subjektif, yang pada gilirannya adalah membentuk kepercayaan. The theory reasoned action berdasarkan model untuk meramalkan aktivitas perilaku yang di bawah kendali volitional. Volitional mengendalikan alat-alat yang digunakan secara penuh mampu mengendalikan capaian dari suatu aktivitas. Dalam hal nonvolitional mengendalikan aktivitas, the theory reasoned action cocok karena mempunyai komponen tambahan dari kendali tingkah laku dirasa sebagai faktor penentu niat. Model penerimaan teknologi (TAM) suatu adaptasi theory reasoned action menjadi populer di antara peneliti sistem inormasi untuk menentukan antecedent pemakaian sistem melalui kepercayaan tentang dua faktor: penggunaan, dan kemudahan suatu sistem informasi (Davis, 1989b). Awal Penelitian adopsi E-Commerce secara luas menggunakan technology acceptance model (Gefen et al., 2003; Liu et al., 2004; dan Malhotra et al., 2004).

PEMBAHASAN
Kepercayaan pada suatu toko online dapat menghasilkan suatu sikap yang baik oleh konsumen dan mungkin juga meningkatkan sikap secara tidak langsung dengan menurunkan persepsi resiko (Jarvenpaa et al., 1999). Dimensi kepercayaan yang diuraikan oleh Bhattacherjee (2002) adalah kemampuan, kebajikan dan integritas. Kemampuan mengacu pada persepsi konsumen, kemampuan dan pengetahuan perilaku yang diharapkan dari toko online. Persepsi ini mungkin diakibatkan oleh pengalaman masa lalu atau pengesahan kelembagaan dari pihak ketiga di dalam format kepercayaan. Integritas mengacu pada persepsi konsumen pada toko online akan bertahan pada satu prinsip atau peraturan tentang pertukaran yang bisa diterima konsumen selama melakukan pertukaran.
Studi empiris sangat terbatas pada keamanan (Miyazaki dan Fernandez, 2001) menemukan keamanan sistem dihubungkan dengan tingkat tarif dari produk online yang dibeli oleh konsumen. E-commerce harus mampu menawarkan keamanan yang setara dengan keamanan dalam dunia nyata. Hal itu antara lain dapat direalisasikan dengan penggunaan teknik kriptografi atau sertifikat digital untuk memastikan autentikasi toko-toko dan konsumen virtual, tanda tangan digital dan cap digital untuk autentikasi dokumen, sistem deteksi adanya perubahan, serta enkripsi untuk menjamin kerahasiaan informasi.
Untuk mengurangi persepsi risiko konsumen bertindak untuk mengasumsikan risiko yang dirasa, dengan mempercayakan atas seseorang atau gagasan dari pihak ketiga. Sebagai Contoh, suatu konsumen mungkin bersandar pada gambaran merek dari suatu produk atau pada pendapat dari orang yang ahli. Persepsi risiko digunakan sebagai suatu pengganti risiko karena sukar untuk menangkap risiko sebagai sesuatu yang pasti. Persepsi risiko digambarkan sebagai kemungkinan hubungan suatu kerugian dalam pengejaran suatu hasil yang diinginkan. Selain sebelum melakukan transaksi secara online konsumen melakukan pengecekan pada bukti fisik, misalnya toko online tersebut memiliki gedung fisik, menghubungi toko online tersebut sesuai dengan apa yang terdapat dalam website, mencari informasi mengenai reputasi perusahaan, serta ukuran perusahaan.
Terkait dengan privasi mempengaruhi aspek seperti distribusi atau non-authorizet pengguna informasi pribadi (Wang et al., 1998). Pertumbuhan teknologi baru untuk mengolah kompleksitas informasi. Sebagai konsekuensi kecurigaan konsumen terus meningkat mengenai data pribadi mereka. Untuk mengurangi persepsi risiko informasi pribadi perhatian khusus harus diberikan pada kepercayaan akan informasi pribadi yang digunakan dan prosedur yang diikuti. Dalam perdagangan konvensional, hubungan yang baik berdasarkan pada pengalaman sebelumnya dan perantara yang dipercaya. Dalam konteks e-commerce tersedia kesempatan yang luas untuk mencari dan mengembangkan relasi baru namun dengan risiko bertransaksi yang semakin tinggi. Sebagai akibatnya, proses pencarian harus dipandu sehingga teridentifikasi dengan jelas sumber dari informasi pribadi yang diperoleh. Pengguna dalam aplikasi e-commerce harus menemukan metode dan alat untuk secara efektif melacak dan mengumpulkan informasi dan jasa online agar dapat menemukan toko online yang memiliki reputasi yang sangat baik. Untuk itu teknik navigasi dan sistem keamanan yang lebih maju harus dikembangkan berdasar pada hyper-link, advanced keyword, context search engine. Selanjutnya, kontrak yang terhubung dengan sistem penyelenggaraan transaksi membuka peluang bagi aneka pengawasan yang intensif akan pelaksanaannya.
Ketika membeli secara online, risiko yang dihadapi oleh pelanggan cenderung lebih besar dibandingkan dengan membeli secara langsung. Hal ini dikarenakan pelanggan tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari perilaku toko online dan produk yang dibelinya secara online. Persepsi risiko adalah tingkat ketidakpastian yang harus di tanggung oleh konsumen jika melakukan transaksi secara online. Untuk memprediksi risiko yang dihadapi konsumen, sebelum melakukan transaksi konsumen berusaha untuk mengumpulkan informasi mengenai toko online. Berdasarkan informasi tersebut konsumen dapat memprediksi seberapa besar risiko yang dihadapinya. Risiko yang dirasakan dapat menimbulkan sikap yang baik ataupun sikap yang kurang baik. Semakin banyak informasi yang diperoleh mengenai toko online yang bersifat positif maka dapat menimbulkan sikap yang baik bagi konsumen.
Sikap terhadap perilaku merupakan evaluasi positif atau negatif dalam melakukan perilaku. Sikap terhadap perilaku menunjukkan tingkatan seseorang mempu¬nyai evaluasi yang baik atau yang kurang baik tentang perilaku tertentu. Hal ini dikarenakan sebelum melakukan transaksi secara online konsumen berusaha mencari informasi mengenai toko online. Semakin banyak informasi yang diperoleh maka konsumen dapat mengevaluasi reputasi suatu toko online. Evaluasi yang baik terhadap toko online akan menimbulkan sikap yang baik terhadap toko online.
Ketika membeli secara online, risiko yang dihadapi oleh pelanggan cenderung lebih besar dibandingkan dengan membeli secara langsung. Hal ini dikarenakan pelanggan tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari perilaku toko online dan produk yang dibelinya secara online. Ketika berada pada kondisi ketidakpastian konsumen enggan untuk melakukan transaksi online. Untuk mengurangi persepsi risiko, toko online perlu menyediakan service pendukung sistem e-commerce yang dibutuhkan seperti sistem keamanan yang sangat baik dengan penggunaan directory services, kriptografi, enkripsi, one time pasword.
Waktu pengguna internet yang berpe¬ngalaman mereka habiskan untuk online. Keahlian yang mereka peroleh lebih banyak melalui pengalaman. Mereka seharusnya yakin bahwa internet lebih bisa dipercaya dari pada mereka yang kurang berpengalaman. Intinya adalah bahwa kepercayaan muncul dengan tingkat pengetahuan tertentu, dimana pengetahuan diperoleh dari pengalaman.
Semakin lama pelanggan menggunakan internet maka pelanggan akan mengerti mana web vendor yang dapat dipercaya dan yang tidak dapat dipercaya, seperti halnya warga kota yang mengerti mana tempat yang dianggap aman dan yang tidak aman. Intinya pelanggan yang berpengalaman menggunakan internet lebih mengetahui toko online yang dapat dipercaya dan yang tidak dapat dipercaya, dari pada orang lain.
PENUTUP
Kontrol keperilakuan menun¬jukkan mudahnya atau sulitnya seseorang melakukan tindakan dan dianggap sebagai cerminan pengalaman masa lalu disamping halangan atau hambatan yang terantisipasi. Adam et al. (1992) melakukan telaah terhadap dua hasil penelitian yang mereplikasi hasil penelitian Davis (1989). Hasilnya adalah suatu penelitian yang menunjukan hasil yang bervariasi, tetapi mengindikasikan bahwa kemudahan penggunaan merupakan faktor penting yang mempengaruhi penggunaan sistem.
Untuk melakukan transaksi secara online bukan hanya membutuhkan fasilitas dan sistem informasi yang baik, tetapi faktor perilaku pengguna juga dapat menentukan keinginan seseorang untuk melakukan transaksi online. Berbagai faktor tersebut adalah pengalaman, kepercayaan, privasi, risiko dan keamanan yang menentukan niat atau keinginan seseorang melakukan transaksi internet banking.

DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, I. 1985. From Intentions to Actions: A Theory of Planned Behavior. Action Control: From Cognition to Behavior. J. Kuhl and J. Beckman. eds. Springer Verlag. New York. 11-39.
Ajzen, I. 1991. The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes. Vol: 50(2). 179-211.
Anil, Gurung. 2006. Empirical Investigation of the Relationship of Privacy Security, and Trust with Behavioral Intention to transact in E-Commerce. The University Of Texas at Arlingon
Bhattacherjee, A. 2002. Individual Trust in Online Firms: Scale Development and Initial Test. Journal of Management Information Systems. Vol :19(1). 211-241.
Burke, R.R. 1997. Do You See What I See? The Future of Virtual Shopping. Journal of the Academy of Marketing Science. Vol: 25 (4). 352-360.
Chang, M. K., Cheung, W., and Lai, V. S. 2005. Literature derived reference models for the adoption of online shopping. Information & Management. Vol: 42(4). 543-559.
Davis, F.D. 1989. Perceived useful¬ness, perceived ease of use, and user acceptance of infor¬mation technology. MIS Quar¬terly. Vol. 13 No. 3. 319-40.
Fox, S. 2000. Trust and privacy online: why Americans want to rewrite the rules, Pew Internet and American Life Project. available at: www.pewinternet.org
Gefen, D., Karahanna, E., and Straub, D. W. 2003. Trust and TAM in Online Shopping: An Integrated Model. MIS Quarterly. Vol: 27(1). 51-90.
Gunasekaran, A dan Love, D.W. 1999. Current and future applications of multimedia technology in business. International Journal of Information Management. Vol. 19 No. 2. pp. 105-20
Hoffman, D.L., Novak, T.P. and Pe¬ralta, M. 1999. Building consu¬mer Trust online. Communica¬tions of the ACM. Vol. 42 No. 4. 80-5.
Jarvenpaa, S. L., Tractinsky, N., Saarinen, L., and Vitale, M. 1999. Consumer Trust in an internet store: a cross-cultural validation. Journal of Computer Mediated Communication. Vol: 5(2).
Malhotra, N. K., Kim, S. S., and Agarwal, J. 2004. Internet users' information privacy concerns (IUIPC): The construct, the scale, and a causal model. Information Systems Research. Vol: 15(4). 336-355.
McKnight, D.H., Cummings, L.L. and Chervany, N.L. 2002. Initial Trust formation in new organizational relationships. Academy of Management Review. Vol. 23 No.3. 473-90.
Miyazaki, A. D., and Fernandez, A. 2001. Consumer Perceptions of Privacy and Security Risks for Online Shopping. Journal of Consumer Affairs. Vol: 35(1). 27-44.
Pavlou, P. A. 2003. Institution-based trust in interorganizational exchange relationships: the role of online B2B marketplaces on trust formation. The Journal of Strategic Information Systems. Vol: 11(3-4). 215-243.
Peterson, R.A, Balasubramanian, S., Bronnenberg, B.J. 1997. Exploring the Implications of the Internet for Consumer Marketing. Journal of the Academy Marketing Science. Vol. 25 No. 4. 329-346.
Sitkin, S. B., and Pablo, A. L. 1992. Reconceptualizing the Determinants of Risk Behavior. Academy of Management Review. Vol: 17(1). 9-38.
Szanja, B. 1996. Empirical evalua¬tion of the revised technology acceptance model. Manage¬ment Science. Vol. 42 No. 1. 85-92.
Taylor, S., and Todd, P. A. 1995. Understanding Information Technology Usage - a Test of Competing Models. Information Systems Research. Vol: 6(2).144-176.
Venkatesh, V. 2000. Determinants of perceived ease of use : inte grating control, intrinsic motiva¬tion, and emotion into the tech¬nology acceptance model. Infor¬mation Sistems Research. Vol. 11 No. 4. 342-65.
Venkatesh, V. and Davis, F.D. 1996. A model of the antecedents of perceived ease of use: deve lopment and test. Decision Sciences. Vol. 27 No. 3. 451-82.
Wang et al. 1998. Consumer privacy concerns about internet marketing. Communication of the ACM. Vol. 41. 63-70

Sumber :Yusnaini. 2010. Jurnal INOVASI.