Abstract
This study investigate local government accounting information systems implementation. Hypothesis investigate the effect of user participation to user satisfaction. Furthermore, to examine interaction between user participation and contingencies factor to user satisfaction. Participants are as many as 68 employee in 5 local gevernment south of sumatera. Moderated regression analysis is used to investigate hypothesis.
The result show, first, user participation has positif significant effect to user participation. Second, interaction between user participation with top management support and user influent have positif significant effect to user satisfaction. While no significant effect in interaction with user-developer communication, task complexity and systems complexity.
Keyword: user participation; top management support; user-developer communication; systems complexity; user influence; user satisfaction
I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam upaya mencapai good goverment governance, pemerintah terus mengintensifkan langkah-langkah dalam pengelolaan keuangan daerah. Melalui berbagai Peraturan dan Undang-Undang, pemerintah terus meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan profesionalitas dalam mengelola keuangan daerah. Pemerintah menterjemahkan tanggungjawab atas keuangan yang dikelolanya dalam bentuk penyampaian laporan keuangan. Untuk membantu penyusunan laporan keuangan, pemerintah membuat sistem akuntansi keuangan daerah. Sistem ini tentu saja sejalan dengan amanah Peraturan dan Undang-Undang yang mengatur hal ini. Dalam pengembangan sistem informasi akuntansi, pemerintah mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 dan disempurnakan oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan tersebut berusaha menyempurnakan peraturan-peraturan pemerintah sebelumnya tentang pengelolaan keuangan daerah. Peraturan ini berusaha mengarahkan penyusunan laporan keuangan yang akuntabel dan transparan. Implementasi sistem informasi keuangan daerah diharapkan dapat memenuhi tuntutan masyarakat tentang transparansi dan akuntabilitas lembaga sektor publik (Mardiasmo 2002).
Saat ini sistem informasi keuangan daerah yang diterapkan di Indonesia sudah diseragamkan. Sistem ini dibangun dengan bekerjasama dengan pihak pengembang sistem untuk memperoleh sistem yang andal. Tujuan keseragaman ini untuk memperoleh laporan keuangan yang online dan mudah diakses baik dipusat maupun daerah. Namun dalam implementasinya, banyak daerah yang masih belum menggunakan sistem yang baru. Hal ini tentu saja menghambat penerapan sistem yang seragam untuk seluruh wilayah Indonesia. Peneliti mengamati implementasi sistem di pemerintah daerah Sumatera Selatan baik dilingkungan provinsi dan beberapa kabupaten/kota. Pada wilayah Sumatera Selatan, terdapat beberapa pemerintahan daerah yang menerima dan ada yang menolak. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa terjadi hal demikian, padahal pemerintah pusat sudah memberikan beberapa dukungan untuk implementasi sistem. Dukungan tersebut antara lain diberikannya sofware sistem, disediakannya fasilitas komputer dan tenaga ahli untuk menjadi field support di masing-masing daerah. Dengan demikian peneliti ingin mengetahui faktor-faktor perilaku dari pengguna sistem dalam pemanfaatan sistem yang baru.
Menurut pendapat Szajna dan Scammel (1993), kesuksesan pengembangan sistem informasi sangat tergantung pada kesesuaian harapan antara sistem analis, pemakai (User), sponsor dan costumer. Demikian pula Bodnar dan Hopwood (1995), berpendapat bahwa perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi, tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Hal ini diperkuat oleh temuan McDermott (1987) bahwa terdapat kira-kira tiga puluh persen kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan tidak memperhatikan aspek organisasional. Perubahan perilaku dan organisasional ini dapat berupa resistance to change. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati.
Untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan (resistance to change) maka diperlukan adanya partisipasi dari pemakai (Ginzberg, 1981; Szjana dan Scammel, 1993; Lawrence dan Low, 1993; Hunton dan Kenneth, 1994; McKeen dkk, 1994; Muntoro, 1994; Choe, 1996). Harapan dari berpartisipasinya pemakai dalam pengembangan sistem informasi adalah agar pemakai dapat memperoleh kepuasan atas sistem yang dikembangkan. Ives dan Olson (1984) melakukan telaah terhadap tujuh penelitian mengenai hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai, memperoleh hasil bahwa dua penelitian menunjukkan hasil yang positif, empat penelitian menunjukkan hasil negatif dan satu penelitian hasilnya mixed. Hasil yang tidak jelas (equivocal), ini disebabkan terbatasnya teori dan tidak lengkapnya metodologi. Demi merekonsiliasi kondisi tersebut, beberapa peneliti menggunakan pendekatan kontinjensi yang secara sistematis mengevaluasi berbagai kondisi atau variabel-variabel yang dapat mempengaruhi hubungan antara partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi dengan kepuasan pemakai atas sistem tersebut. Ada banyak faktor yang kontinjensi yang dianggap berpengaruh pada hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai. Namun, dalam penelitian ini difokuskan pada lima faktor kontinjensi yaitu dukungan manajemen puncak, komunikasi pemakai – pengembang, kompleksitas tugas, kompleksitas sistem, dan pengaruh pemakai (user influence).
Peneliti memfokuskan pada lima faktor kontinjensi tersebut dikarenakan adanya research gap antara temuan penelitian yang dilakukan olehMcKeen (1994) dengan Chandrarin (1997), yakni menurut McKeen kompleksitas tugas sebagai pure moderator, sedangkan menurut Chandrarin dan Indriantoro (1997) kompleksitas sebagai independent predictor. Research gap ini terjadi pada temuan penelitian McKeen (1994) dengan temuan penelitian Restuningdiah (1999), yakni temuan McKeen menunjukkan bahwa pengaruh pemakai sebagai Independent Predictor, sedangkan temuan Restuningdiah menunjukkan bahwa pengaruh pemakai sebagai quasi moderator. Demikian pula kontradiksi temuan terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh McKeen (994) dengan penelitian yang dilakukan oleh Robey dan Farrow (1982), yakni pengaruh pemakai dilaporkan McKeen sebagai independent predictor, sedangkan oleh Robey dan Farrow, pengaruh pemakai dilaporkan sebagai moderating variabel. Kontradiksi ini terjadi pula pada temuan penelitian Chandrarin dan Indriantoro (1997) dengan temuan penelitian Restuningdiah (1999), yakni kompleksitas tugas oleh Chandrarin dan Indriantoro dilaporkan sebagai independent predictor, sedangkan oleh Restuningdiah, kompleksitas tugas sebagai quasi moderator. Sementara temuan para peneliti ini menunjukkan pengaruh positif partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai, dengan besarnya pengaruh yang berbeda-beda dan fluktuatif.
Penelitian yang menguji tentang faktor-faktor psikologi telah dilakukan oleh Primasari dkk (2008). Penelitian tersebut menguji tentang variabel anteseden dan konsekuensi implementasi sistem informasi keuangan daerah pada propinsi Jawa Tengah. Hasilnya menunjukkan bahwa adaptasi pegawai dan pengaruh disain sistem berpengaruh terhadap implementasi sistem informasi dan pada akhirnya akan menciptakan kepuasan pegawai dan dihasilkannya kinerja yang tinggi.
Beberapa penelitian sebelumnya tersebut menggunakan setting pada organisasi privat. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, pada pada penelitian ini penulis tertarik untuk menguji bagaimana jika teori-teori mengenai pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai sistem informasi yang berada pada organisasi sektor publik. Dalam hal ini penelitian dilakukan pada lembaga pemerintahan dengan pegawai pemerintah sebagai subjek penelitian. Adapun teknologi informasi yang diteliti adalah penggunaan sistem informasi keuangan daerah.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah Partisipasi Pemakai dalam pengembangan sistem informasi berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai.
2. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Dukungan Manajemen Puncak berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
3. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Komunikasi Pemakai-Pengembang berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
4. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Tugas berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
5. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Sistem berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi
6. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Pengaruh Pemakai berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai :
1. Partisipasi Pemakai dalam pengembangan sistem informasi berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai.
2. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Dukungan Manajemen Puncak berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
3. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Komunikasi Pemakai-Pengembang berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
4. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Tugas berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
5. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Sistem berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi
6. Apakah Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Pengaruh Pemakai berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai dalam pengembangan sistem informasi
II. Telaah Teori dan Pengembangan Hipotesis
2.1. Pengelolaan Keuangan Daerah
Proses ini tersusun dari pelaksanaan fungsi-fungsi penganggaran pembukuan dan pemeriksaan atau secara operasional apabila dirangkaikan dengan daerah maka pengelolaan keuangan daerah adalah yang pelaksanaannya meliputi penyusunan, penetapan, pelaksanaan pengawasan dan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (Domai, 2002). Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pengelolaan keuangan dan sumber-sumber ekonomis (aset) daerah sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengelolaan keuangan dan aset daerah yang baik, dalam pengertian transparan, efisien, efektif dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Pasal 56 ayat (2) UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pasal 5 Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, pasal 100 PP 58 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah mengatur bahwa laporan keuangan yang wajib disampaikan oleh Pemerintah Daerah adalah sekurang-kurangnya terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Dasar dalam penyusunan pelaporan keuangan adalah Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 Pemerintahan Daerah pasal 184 ayat (2) dan ayat (3), serta ditegaskan kembali dalam PP 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 96, yang menyebutkan bahwa pertanggungjawaban pelaksanaan APBD adalah laporan keuangan yang disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan (SAP).
Laporan keuangan selain harus disusun oleh Pemerintah Daerah, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) juga diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan sebagainana yang dimaktub pada UU No. 17 Tahun 2003 mengenai Keuangan Negara dan UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang mengatur mengenai berbagai ketentuan tentang pengelolaan keuangan negara termasuk penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dalam lingkup pemerintah daerah. Pasal 10 ayat (3) UU No. 17 Tahun 2003, dan ditegaskan kembali Peraturan Pemerintah (PP) 58 Tahun 2005, menyebutkan bahwa salah satu tugas Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya. Lebih rinci lagi tentang penyampaian laporan keuangan tersebut, menurut PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan PP No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) mewajibkan bahwa setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk menyusun laporan keuangan yang terdiri dari (1) Laporan Realisasi Anggaran ; (2) Neraca; (3) Laporan Arus Kas dan (4) Catatan atas Laporan Keuangan (CALK).
Dalam kaitan dengan asas akuntabilitas dan transparansi di atas, informasi keuangan yang memadai dan andal diperlukan sebagai dasar pembuatan keputusan yang rasional bagi pihak internal maupun eksternal yang mempunyai kepentingan pada Pemerintah Daerah. Sistem akuntansi keuangan daerah yang baik akan menjamin bahwa laporan keuangan yang disusun merupakan informasi keuangan yang memadai dan andal. Sistem akuntansi ini pada dasarnya berisi ketentuan yang mengatur sistem dan prosedur akuntansi yang mencakup pengorganisasian formulir/ dokumen, catatan dan laporan keuangan oleh unit-unit organisasi atau SKPD.
2.2. Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah
Terciptanya sistem pengelolaan Keuangan Daerah (Keuda) yang efisien dan efektif merupakan kebutuhan setiap Pemda untuk dapat mencapai kinerja yang optimal dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomis. Efisiensi dan efektivitas pengelolaan Keuda dipengaruhi oleh kemampuan Pemda dalam melaksanakan mekanisme manajemen yang bertumpu pada dua dimensi penting, yaitu: perencanaan dan pengendalian. Penetapan anggaran Daerah merupakan hasil mekanisme perencanaan Keuda sedang pelaksanaan dan pengawasan anggaran Daerah merupakan hasil mekanisme pengendalian Keuda. Kedua mekanisme tersebut harus selalu diupayakan agar dapat terlaksana secara efisien dan efektif. Manajemen Pemda, dalam hal ini, memerlukan instrumen berupa informasi keuangan yang memadai dan andal agar dapat digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan yang rasional dalam mekanisme perencanaan dan pengendalian Keuda. Informasi keuangan tersebut tidak saja diperlukan untuk keperluan manajemen (internal) Pemda, melainkan juga untuk memenuhi keperluan pihak di luar manajemen (eksternal) Pemda dalam rangka pertanggungjawaban dan evaluasi kinerja.
Untuk menghasilkan informasi keuangan yang memadai dan andal, diperlukan sistem akuntansi Keuda yang dapat memenuhi kebutuhan pihak internal dan eksternal Pemda. Sistem akuntansi Keuda pada dasarnya berisi ketentuan yang mengatur sistem dan prosedur akuntansi yang mencakup pengorganisasian formulir, catatan dan laporan keuangan oleh unit-unit organisasi Pemda. Sistem akuntansi Keuda juga mencakup sistem dan prosedur pengurusan administratif dan kebendaharawanan dalam rangka mekanisme pengelolaan Keuda yang mengakibatkan bertambah dan atau berkurangnya sumber-sumber ekonomis Daerah yang berupa uang, barang atau jasa. Sistem akuntansi Keuda yang baik disamping akan menghasilkan informasi keuangan yang memadai dan andal untuk pertanggungjawaban dan evaluasi kinerja, dimaksudkan pula untuk meningkatkan keamanan sumber-sumber ekonomis yang dikelola oleh Pemda dan meningkatkan efisiensi biaya pengurusan administratif dan kebendaharawanan dalam rangka pengelolaan Keuda. Penyusunan Sistem akuntansi Keuda harus mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan manajemen Pemda yang akan melaksanakannya.
2.3. Tahapan Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan sistem informasi adalah proses memodifikasi atau mengubah bagian-bagian atau keseluruhan sistem informasi. Menurut Burch, dkk (1991), hal penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan sistem informasi adalah manusia. Pernyataan ini diperkuat oleh Baronas, dkk. (1988) bahwa apabila suatu informasi mengalami kegagalan, salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan sistem informasi itu memenuhi harapan stakeholder yang meliputi : analis sistem, pemakai akhir, sponsor dan pelanggan. Dengan demikian untuk mengurangi resiko kegagalan sistem informasi dibutuhkan kemampuan memprediksi outcome dari upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan sistem informasi. Prediksi lebih awal ini dapat dibuat dalam tahap-tahap proyek pengembangan sistem informasi (Ginzberg, 1981).
Setiap proyek pengembangan sistem akan melalui siklus hidup pengembangan sistem SDLC(Sistem Development Life Cycles). Pendekatan dengan SDLC ini biasanya digunakan oleh divisi sistem informasi untuk memberikan pengertian yang jelas tentang apa yang seharusnya disertakan dalam pengembangan suatu sistem. Pendekatan dengan SDLC ini biasanya digunakan oleh divisi sistem informasi untuk memberikan pengertian yang jelas tentang apa yang seharusnya disertakan dalam pengembangan suatu sistem. Tahapan ini meliputi feasibility assessment, information analysis, System design, Program development, Procedure development, Conversion dan terakhir adalah tahap Operation and maintenance.
2.4. Partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi
Penelitian tentang partisipasi pengguna dalam pengembangan sistem informasi telah banyak dilakukan. Dalam pengembangan sistem informasi peranan pengguna merupakan peranan yang sentral dalam pengembangan sistem informasi. Faktor partisipasi pengguna secara umum dari berbagai hasil riset memberikan kontribusi positif terhadap keberhasilan pengembangan sistem. Hasil penelitian yang dipaparkan baik oleh McKeen et al. (1994), Doll dan Deng (2001), Guimaraes et al. (2003) serta Suryaningrum (2003) menemukan bahwa partisipasi pengguna merupakan variabel yang efektif yang menentukan kepuasan pengguna, keberhasilan sistem maupun kualitas sistem. Penggunaan ketiga terminology variabel ini (kepuasan pengguna, keberhasilan sistem dan kualitas sistem) seringkali rancu. Seringkali kepuasan pengguna dianggap sama dengan kualitas sistem, atau bila tidak kepuasan pengguna digunakan untuk mengukur kualitas sistem.
Guimaraes et al. (2003) menyatakan bahwa penggunaan kepuasan pengguna untuk mengukur kualitas sistem justru akan menyebabkan penilaian yang subyektif tentang pengertian kualitas sistem. Kepuasan pengguna lebih menyangkut pandangan pengguna terhadap sistem informasi, tetapi bukan pada aspek kualitas teknik sistem yang bersangkutan. Atau dengan kata lain kepuasan pengguna lebih mengukur persepsi apa yang disediakan oleh sistem informasi daripada memberi informasi tentang kapabilitas fungsional sistem informasi yang bersangkutan. Alasan inilah yang kemudian mendasari Guimaraes et al. (2003) untuk tidak menempatkan variabel kepuasan pengguna dalam risetnya ini.
Meta analisis yang dilakukan oleh Hwang dan Thorn (1999) menyimpulkan bahwa partisipasi partisipasi pengguna mempunyai hubungan yang sangat signifikan dengan keberhasilan sistem. Artinya dalam konteks tidak langsung adanya partisipasi pengguna merupakan upaya untuk mencapai kepuasan pengguna agar keberhasilan dalam pengembangan sistem dapat dicapai. Doll dan Deng (2001) menyatakan bahwa partisipasi pengguna merupakan faktor penting yang harus dipenuhi. Wawancara, survey, identifikasi kebutuhan pengguna akan dilakukan secara intens untuk memperbaiki kualitas keputusan desain sistem informasi. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kepuasan pengguna yang pada gilirannya akan menyebabkan keberhasilan pengembangan sistem. McKeen et al. (1994) sebenarnya dalam awal penelitiannya memaparkan model dengan variabel dependen keberhasilan sistem. Namun berdasarkan kajian atas berbagai hasil riset, mereka menyimpulkan bahwa dalam pengembangan sistem informasi variabel kepuasan pengguna merupakan variabel yang dominan yang mempengaruhi keberhasilan sistem informasi. Alasan inilah yang kemudian mendasari mengapa model yang dikembangkan mencoba menarik hubungan antara partisipasi pengguna dengan kepuasan pengguna, bukan dengan keberhasilan sistem.
Hasil penelitian Guimaraes et al. (2003) secara eksplisit mendukung meta analisis yang dilakukan oleh Hwang dan Thorn (1999). Partisipasi merupakan variabel yang sangat dominan terhadap kualitas sistem. Dalam hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai dalam pemanfaatan sistem informasi akuntansi terdapat variabel moderasi yang mempengaruhi hubungan tersebut. Teori kontingensi menjelaskan bagaimana hubungan berbagai variabel yang dapat memoderasi hubungan antara partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam penggunaan sistem informasi.
2.5. Teori Kontinjensi dalam Hubungan Partisipasi Pemakai Terhadap Kepuasan Pemakai
Diperlukannya partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi telah diakui secara luas dalam literatur. Partisipasi merupakan perilaku, pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan oleh pemakai selama proses pengembangan sistem informasi (Barki dan Hartwick, 1994). Keduanya membedakan user involvement dengan user participation. User participation sebaiknya lebih digunakan bila berkaitan dengan perilaku dan aktifitas pemakai dalam proses pengembangan sistem informasi. Dinyatakan pula bahwa pengukuran perilaku pemakai dan aktifitas harus dipertimbangkan sebagai pengukur user participation, bukan user involvement (Barki dan Hartwick, 1994; Baroudi et al, 1986; Doll dan Torzadeh, 1990; Franz dan Robey, 1986). Partisipasi pemakai digunakan untuk menunjukkan intervensi personal yang nyata pemakai dalam pengembangan sistem informasi, mulai dari tahap perencanaan, pengembangan sampai pada tahap implementasi sistem informasi. Menurut Mumford (1974) dalam Tait dan Vessey (1988), ada tiga jenis partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi, yaiut partisipasi konsultatif, representatif dan konsensus.
Adanya partisipasi pemakai diharapkan dapat meningkatkan penerimaan sistem oleh pemakai, yaitu dengan mengembangkan harapan yang realitas terhadap kemampuan sistem, memberikan sarana bargaining dan pemecahan konflik seputar masalah perancangan sistem serta memperkecil adanya resistance to change dari pemakai terhadap informasi yang dikembangkan (Muntoro, 1994). Oleh karena itu, partisipasi pemakai dalam aktifitas pengembangan sistem diharapkan akan meningkatkan komitmen dan keterlibatan pemakai sehingga pemakai dapat menerima dan menggunakan sistem informasi yang dikembangkan dan akhirnya dapat meningkatkan kepuasan pemakai.
Teori kontijensi berpendapat bahwa desain dan penggunaan sistem pengendalian adalah kontijen dalam konteks setting operasional. Hal ini berarti teori kontijensi itu sendiri tidak mempunyai content tertentu, melainkan hanyalah sebuah kerangka untuk pengaturan pengetahuan dalam bidang tertentu. Maka bila kita akan bertumpu pada teori kontijensi sebagai dasar untuk pengembangan teori yang berkaitan dengan pengaruh partisipasi pemakai pada keberhasilan sistem, kita harus bertumpu pada teori kontijensi yang dibuat dari area disiplin ilmu yang lain, juga dari penelitian sebelumnya dalam sistem informasi (Tait dan Vessey. I, 1988)
Teori kontijensi timbul untuk merespon pendekatan universalistik yang berpendapat bahwa aplikasi disain pengendalian optimal untuk semua perubahan dalam semua kondisi. Jadi, teori kontijensi timbul untuk merespon pendekatan universalistik, yang dalam hal ini menyatakan bahwa partisipasi pemakai berpengaruh terhadap kepuasan pemakai, dimana dalam kenyataannya pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dimoderasi oleh beberapa faktor kontijensi. Dari sekian banyak faktor kontijensi yang diyakini berpengaruh pada hubungan partisipasi dan kepuasan pemakai, diangkat lima faktor kontijensi dalam penelitian ini, yaitu :
1. Dukungan Manajemen Puncak
Cerullo (1980) dalam Choe (1996) menjelaskan bahwa Dukungan manajemen puncak meliputi penyusunan sasaran atau penelitian tujuan, mengevaluasi usulan proyek pengembangan sistem informasi, mendefinisikan informasi dan pemprosesan yang dibutuhkan, melakukan review program dan rencana pengembangan sistem informasi. Menurut Muntoro (1994), dukungan menajemen puncak tidak hanya penting untuk alokasi sumber daya yang diperlukan, melainkan memberikan strong signal bagi karyawan bahwa perubahan yang dilakukan merupakan sesuatu yang penting. Vanlommel dan DeBrabander (1975) mengemukakan bahwa hubungan antara partisipasi dan kepuasan pemakai dipengaruhi oleh dukungan manajemen puncak.
2. Komunikasi Pemakai – Pengembang
Menurut Churman dan Schainblatt (1965) dalam McKeen dkk. (1994), hubungan antara pemakai dan pengembang selalu simbiotik. Pemakai mempunyai informasi dan pemahaman yang lengkap tentang dinamika lingkungan bisnis, dan pemakai perlu menyampaikan pemahamannya kepada pengembang untuk selanjutnya oleh pengembang ditransformasikan kedalam sistem informasi yang akan dikembangkan. DeBrabander dan Thier (1984) mengemukakan adanya hubungan yang signifikan antara komunikasi yang efektif dan kesuksesan pengembangan sistem. Komunikasi pemakai – pengembang dapat mempengaruhi kepuasan pemakai.
3. Kompleksitas Tugas
Kompleksitas dalam proses pengembangan sistem memegang peranan yang signifikan dalam hubungan antara partisipasi dan kesuksesan sistem, seperti yang diungkapkan DeBrabandar (1971), McKeen (1994), menyimpulkan bahwa kompleksitas tugas merupakan variabel moderasi pada hubungan antara partisipasi dan kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
4. Kompleksitas Sistem
Menurut Chandrarin dan Indriantoro (1997) kompleksitas sistem berpengaruh kecil sekali (quasi moderator) terhadap hubungan partisipasi dan kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi. Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Restuningdiah (1999).
5. Pengaruh Pemakai
Menurut Doll dan Torkzadeh (1989) tanpa adanya pengaruh yang cukup untuk melakukan perubahan serta untuk mempengaruhi hasil yang ada, maka pemakai sistem informasi hanyalah melihat partisipasi mereka sebagai suatu pemborosan waktu. McKeen et al. (1994) berargumentasi bahwa bila pengaruh pemakai diabaikan, maka hubungan antara partisipasi pemakai dan kepuasan pemakai sistem informasi diperkirakan akan menjadi lemah, dan sebaliknya.
2.6. Pengembangan Hipotesis
Berikut hipotesis yang diajukan peneliti yang dibangun berdasarkan fenomena dan teori yang dipaparkan sebelumnya:
H 1 : Partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakai.
H 2 : Dukungan Manajemen puncak memoderasi pengaruh partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
H 3 : Komunikasi pemakai – pengembang memoderasi pengaruh partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem informasi
H 4 : Kompleksitas tugas memoderasi pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
H 5 : Kompleksitas sistem memoderasi pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
H 6 : User Influence memoderasi pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
III. Metode Penelitian
Responden penelitian ini adalah pegawai di lingkungan 5 pemerintahan daerah Sumatera Selatan yang meliputi pemerintahan daerah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintahan Kota Palembang, Pemerintahan Kota Prabumulih, Pemerintahan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Musi Banyu Asin. Pegawai yang menjadi responden adalah orang yang terlibat secara langsung dalam pemanfaatan sistem informasi yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah. Dalam hal ini peneliti tidak membedakan antara pegawai yang tetap maupun honorer. Berdasarkan data yang diperoleh dari objek penelitian, total pegawai bagian keuangan yaitu sebanyak 351 pegawai. Pegawai yang menjadi responden penelitian ini adalah sebanyak 115 karyawan. Dengan demikian respon rate pengembalian kuesioner adalah sebesar 71,30% (82/115). Dari jumlah tersebut, kuesioner yang kembali hanya sebanyak 82 kuesioner, sedangkan kuesioner yang dapat diolah hanya sebanyak 68 kuesioner.
Alat analisis yang digunakan untuk menguji Hipotesis 1 digunakan model regresi linier sederhana (Simple Linier Regression). Persamaan statika yang digunakan adalah : Y = a + bx + e, dimana Y = Kepuasan Pemakai, a = Konstanta, b = Koefisien regresi, x = Partisipasi pemakai, dan e = Variabel pengaruh yang lain. Sedangkan H2 – H5 diuji dengan MRA (Moderated Regression Analysis). MRA merupakan bentuk regresi yang dirancang secara hirarki untuk menentukan hubungan antara dua variabel yang dipengaruhi oleh variabel moderating (Nunnaly dan Berstein, 1994). Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah normalitas, tidak terjadi autokorelasi, multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner serta pengujian terhadap asumsi klasik menunjukkan data telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1. Hasil Uji Hipotesis
Hipotesis 1 diuji dengan menggunakan analisis regresi linier. Pengujian hipotesis 2 sampai dengan 6 dilakukan dengan menggunakan analisis Moderated Regression Analisys (MRA). Tampilan hasil output SPSS analisis regresi linier maupun MRA dapat dilihat pada table 1.
Table 1
Hasil Analisis Regresi Linier dan
Hasil Moderated Regression Analisys (MRA)
Hipo-tesis Persamaan Regresi Nilai F R square Konfirmasi Hipotesis
H1 KP= a + b1PP
KP=28,527+0,771PP 12,607
(0,001) 0,148 Didukung
H2 KP= a+b1PP+b2DMP+b3PP*DMP
KP=31,428-1,530PP-0,140DMP+0,099PP*DMP 8,230 (0,000) 0,245 Didukung
H3 KP= a + b1PP + b2KoP+b3PP*KoP
KP=32,136-0,717PP-0,268KoP+0,128PP*KoP 6,020 (0,001) 0,184 Tidak Didukung
H4 KP= a + b1PP+b2KT+b3PP*KT
KP=31,688+0,010PP-0,200KT+0,049PP*KT 4,439 (0,007) 0,133 Tidak Didukung
H5 KP= a + b1PP+b2KS+b3PP*KS
KP=30,308-0,982PP-0,052KS+0,081PP*KS 6,554 (0,001) 0,199 Tidak Didukung
H6 KP= a + b1PP+b2PeP+b3PP*PeP
KP=57,455-3,306PP-4,391PeP+0,618PP*PeP 7,315 (0,000) 0,220 Didukung
Sumber: Data Olahan
a. Hasil Uji Hipotesis 1
Dari output analisis regresi pada table 1, diperoleh hasil bahwa variabel partisipasi pemakai berpengaruh terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi, dengan koefisien determinasi sebesar 0,148. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pemakai berpartisipasi dalam pengembangan sistem informasi, semakin tinggi pula kepuasan pemakai. Dengan demikian, maka hasil analisis regresi dapat mendukung hipotesis 1.
Temuan penelitian ini mendukung hasil penelitian Doll dan Torkzadeh (1989), Kappelman dan McLean (1991), McKeen et al. (1994), Choe (1996), Chandrarin dan Indriantoro (1997), Setyaningsih dan Indriantoro (1998) dan Restuningdiah (1999). Temuan ini juga membuktikan bahwa partisipasi pemakai hanya berpengaruh kecil yaitu 15% yang memperkuat temuan peneliti-peneliti sebelumnya. Perlu ditelusuri kemungkinan variabel lain yang berpengaruh pada kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi.
b. Hasil Uji Hipotesis 2 sampai Hipotesis 6
Untuk kepentingan uji interaksi, perlu disiapkan data interaksi antara variabel partisipasi dengan masing-masing variabel moderating. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel dukungan manajemen puncak dinyatakan dalam variabel Moderat¬¬_1. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel komunikasi pemakai-pengembang ditunjukkan dalam variabel Moderat_2. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel kompleksitas tugas ditampung dalam variabel Moderat_3. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel kompleksitas sistem disimbolkan dengan variabel Moderat_4. Interaksi antara variabel partisipasi pemakai dengan variabel pengaruh pemakai disebut variabel Moderat_5.
Hasil pengujian Hipotesis 2 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,245, hal ini berarti 24,5% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independent partisipasi, dukungan manajemen puncak dan moderat_1. Selebihnya sebesar 75,5% (100%-24,5%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 8,230 dengan tingkat signifikasnsi 0,000. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Dukungan Manajemen Puncak dan Moderat_1 secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independent yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Dukungan Manajemen Puncak tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -1,530 dengan tingkat signifikansi 0,089 dan variabel DMP memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,140 dengan tingkat signifikansi 0,456. Sedangkan variabel Moderat_1 yang merupakan interaksi antara PP dengan DMP secara signifikan berpengaruh terhadap KP. Variabel Moderat_1 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,099 dengan tingkat signifikansi 0,010. Dapat disimpulkan bahwa variabel DMP merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai. Dengan demikian Hipotesis 2 terdukung.
Hasil pengujian Hipotesis 3 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,184, hal ini berarti 18,4% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independen partisipasi, komunikasi pemakai pengembang dan moderat_2. Selebihnya sebesar 81,6% (100%-18,4%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 6,020 dengan tingkat signifikasnsi 0,001. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Komunikasi Pemakai Pengembang dan Moderat_2 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Komunikasi Pemakai Pengembang tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -0,717 dengan tingkat signifikansi 0,464 dan variabel KoP memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,268 dengan tingkat signifikansi 0,603. Sedangkan variabel Moderat_2 yang merupakan interaksi antara PP dengan KoP tidak berpengaruh signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_2 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,128 dengan tingkat signifikansi 0,159. Dapat disimpulkan bahwa variabel KoP bukan merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai. Dengan demikian Hipotesis 3 tidak terdukung.
Hasil pengujian Hipotesis 4 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,133, hal ini berarti 13,3% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independent partisipasi, kompleksitas tugas dan moderat_3. Selebihnya sebesar 86,7% (100%-13,3%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 4,439 dengan tingkat signifikasnsi 0,007. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Kompleksitas Tugas dan Moderat_3 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Kompleksitas Tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter 0,010 dengan tingkat signifikansi 0,995 dan variabel KT memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,200 dengan tingkat signifikansi 0,786. Sedangkan variabel Moderat_3 yang merupakan interaksi antara PP dengan KT tidak berpengaruh signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_3 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,049 dengan tingkat signifikansi 0,633. Dapat disimpulkan bahwa variabel KT bukan merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai. Dengan demikian Hipotesis 4 tidak terdukung
Hasil pengujian Hipotesis 5 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,199, hal ini berarti 19,9% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independent partisipasi, kompleksitas sistem dan moderat_4. Selebihnya sebesar 80% (100%-19,9%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 6,554 dengan tingkat signifikasnsi 0,001. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Kompleksitas Sistem dan Moderat_4 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Kompleksitas Sistem tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -0,982 dengan tingkat signifikansi 0,284 dan variabel KS memberikan nilai koefisien parameter sebesar -0,052 dengan tingkat signifikansi 0,847. Sedangkan variabel Moderat_4 yang merupakan interaksi antara PP dengan KS tidak berpengaruh signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_4 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,081 dengan tingkat signifikansi 0,082. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel KS bukan merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai Dengan demikian Hipotesis 5 tidak terdukung.
Hasil pengujian Hipotesis 6 menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square = 0,220, hal ini berarti 22% variasi kepuasan pemakai dapat dijelaskan oleh variabel independen partisipasi, pengaruh pemakai dan moderat_5. Selebihnya sebesar 78% (100%-22%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Uji Anova atau F test menghasilkan F hitung sebesar 7,315 dengan tingkat signifikasnsi 0,000. Karena probabilitas signifikansi jauh lebih kecil daripada 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Kepuasan Pemakai atau dapat dikatakan bahwa Partisipasi, Pengaruh Pemakai dan Moderat_5 secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai Sistem. Untuk melihat pengaruh variabel secara parsial, dapat dilihat dari tingkat signifikansi masing-masing variabel. Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel Partisipasi Pemakai dan Pengaruh Pemakai berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai. Variabel PP memberikan nilai koefisien parameter -0,306 dengan tingkat signifikansi 0,026 dan variabel PeP memberikan nilai koefisien parameter sebesar -4,391 dengan tingkat signifikansi 0,006. Sedangkan variabel Moderat yang merupakan interaksi antara PP dengan PeP berpengaruh secara signifikan terhadap KP. Variabel Moderat_5 memberikan nilai koefisien parameter sebesar 0,618 dengan tingkat signifikansi 0,006. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel PeP merupakan pemoderasi antara Partisipasi Pemakai dengan Kepuasan Pemakai Dengan demikian Hipotesis 6 terdukung.
4.2. Pembahasan
Dukungan terhadap Hipotesis 1 yang menguji pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai menunjukkan bahwa dalam lembaga pemerintahan memang dibutuhkan peran dari karyawan dalam proses pengembangan sistem. Meskipun pengaruh pemakai dalam penelitian ini hanya sebesar 15%, hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pemakai berpartisipasi dalam pengembangan sistem informasi maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan pemakai. Dengan demikian, pemerintah daerah perlu melibatkan karyawan-karyawannya terutama bagian Penganggaran dan Pembukuan dalam pengembangan sistem informasi akuntansi. Diharapkan keterlibatan mereka mampu mengeliminasi keluhan-keluhan yang sering terjadi selama ini.
Dukungan manajemen puncak yang berinteraksi dengan partisipasi pemakai memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan pemakai dalam memanfaatkan sistem informasi akuntansi pada lembaga pemerintahan. Dukungan terhadap Hipotesis 2 ini menunjukkan bahwa dukungan dari pemerintahan pusat maupun otoritas yang lebih tinggi mampu meningkatkan kepuasan pengguna sistem. Hal ini dapat dilihat pada keterlibatan pemerintah pusat dalam perencanaan sistem dan evaluasi usulan proyek pengembangan sistem informasi akuntansi. Selain itu pemerintah juga memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam pemanfaatan sistem informasi. Dukungan tersebut antara lain adalah menyiapkan anggaran dan melibatkan pihak ketiga dalam memberikan pelatihan dan bimbingan teknis kepada para pengguna sistem. Selain itu pemerintahan pusat dan daerah secara terus menerus melakukan pengawasan dalam upaya meningkatkan kepuasan pengguna sistem. Dalam jangka panjang diharapkan dapat diperoleh efisiensi dan akurasi yang tinggi dalam penyusunan laporan keuangan pemerintahan.
Keterlibatan pengembang dalam pengembangan sistem informasi akuntansi keuangan daerah tidak dapat dihindarkan. Selama ini sistem yang ada selalu melibatkan pihak ketiga, baik secara swakelola maupun yang ditunjuk oleh pemerintah pusat secara langsung. Hipotesis 3 menyatakan bahwa interaksi antara partisipasi pemakai dengan komunikasi pemakai pengembang mempengaruhi kepuasan pemakai sistem informasi. Hasilnya secara simultan menunjukkan bahwa partisipasi pemakai, komunikasi pemakai-pengembang dan interaksi keduanya berpengaruh sebesar 18,4%. Namun jika dilihat secara parsial variabel interaksi antara PP dengan KoP tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini kondisi pemanfaatan sistem di pemerintahan masih satu arah. Pemakai dan pengembang belum leluasa untuk mentransformasikan informasi yang diperlukan untuk pengembangan sistem. Kondisi yang ada menunjukkan bahwa karyawan yang terlibat langsung dengan sistem untuk penyusunan anggaran dan laporan keuangan masih sebatas menerima saja sistem yang diberikan. Belum terjadi komunikasi dua arah yang ideal diantara pemakai dan pengembang. Hal ini terjadi karena sistem yang dikembangkan merupakan aplikasi dari peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan secara jamak. Perubahan sistem biasanya mengikuti perubahan peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah.
Hipotesis 4 dan hipotesis 5 dalam penelitian ini tidak didukung. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Kompleksitas Tugas (H4) dan Kompleksitas Sistem (H5) tidak berpengaruh secara signifikan dengan Kepuasan Pemakai. Pada kondisi pemerintahan yang kaku dengan peraturan, maka tugas yang diterima oleh seorang karyawan adalah sebuah tanggungjawab yang tidak bias dinegosiasi. Tugas yang diterima baik bersifat kompleks maupun sederhana harus diselesaikan tepat pada waktunya. Begitu pula dengan sistem yang ada, sistem dibuat sedemikian rupa dengan mengikuti peraturan pengelolaan keuangan daerah. Semakin detai dan rumit peraturan yang mengikat, maka semakin kompleks pula sistem yang dihasilkan. Dengan demikian, pada seting organisasi pemerintahan kompleksitas tugas dan kompleksitas sistem tidak dapat berinteraksi dengan partisipasi dalam meningkatkan kepuasan pemakai sistem informasi akuntansi keuangan daerah.
Hasil penelitian ini mendukung Hipotesis 6 yang menyatakan bahwa interaksi antara partisipasi pemakai dengan pengaruh pemakai dapat berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakai dalam pengembangan sistem informasi. Hal ini menunjukkan bahwa bila pemakai dapat mempengaruhi keputusan yang berkaitan dengan pengembangan sistem, maka partisipasi mereka menjadi lebih bernilai. Namun jika pengaruh pemakai diabaikan, maka hubungan antara partisipasi pemakai dengan kepuasan pemakai menjadi lemah dan sebaliknya. Hasil ini mendukung penelitian McKeen et al. (1994). Dalam lembaga pemerintahan, pengguna sistem akan melihat partisipasi mereka hanyalah sebagai suatu yang sia-sia jika partisipasi tersebut tidak memberikan perubahan seperti yang diinginkan.
V. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka dalam penelitian ini diperoleh simpulan sebagai berikut:
a. Pengaruh partisipasi pemakai terhadap kepuasan pemakai dalam pemanfaatan sistem informasi keuangan daerah di pemerintahan daerah Sumatera Selatan hanya sebesar 15% saja. Hal ini menunjukkan bahwa banyak faktor-faktor lain (sebesar 85%) yang mempengaruhi kepuasan pemakai sistem informasi akuntansi keuangan daerah.
b. Interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Dukungan Manajemen Puncak/Pengaruh Pemakai berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pemakai sistem informasi keuangan daerah. Sedangkan interaksi antara Partisipasi Pemakai dengan Komunikasi Pemakai Pengembang/Kompleksitas Sistem / Kompleksitas Tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pemakai sistem informasi keuangan daerah.
c. Perbedaan hasil penelitian ini dengan hasil penelitian sebelumnya mungkin saja karena karakteristik organisasi sektor publik (pemerintahan) berbeda dengan seting organisasi penelitian sebelumnya yang merupakan organisasi privat.
Dari simpulan yang telah diperoleh, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:
a. Kepuasan karyawan yang terlibat langsung dengan pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah dapat ditingkatkan dengan dilibatkannya mereka untuk berpartisipasi dalam pengembangan sistem.
b. Dukungan manajemen puncak, dalam hal ini pemerintahan yang memiliki otoritas lebih tinggi hendaknya lebih meningkatkan dukungan mereka terhadap pengembangan sistem informasi keuangan daerah. Pemerintah daerah diharapkan lebih mendengarkan aspirasi pemakai sistem secara langsung agar kepuasan kerja karyawan menjadi lebih tinggi.
c. Meskipun partisipasi pemakai berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakai. Namun pengaruh tersebut cukup kecil (15%), sehingga masih banyak faktor –faktor lain yang dapat diteliti oleh peneliti selanjutnya.
Daftar Pustaka
Barki, H dan J., Hatrwick. 1994. Measuring User Participation, User Involvement, and User Attitude. MIS Quarterly. March.
Baronas, A.M.K., dan M.R., Louis. 1988. Restoring a Sense of Control During Implementation: How User Involvement Leads to Sistems Acceptance. MIS Quarterly. March.
Baroudi, J.J., Olson, M.H, dan Ives, B. 1986. An Empirical Study of The Impact of User Involvement on Sistem Usage and Information Satisfaction. Communication of the ACM. March.
Bodnar, G.H., dan William S., Hopwood. 1995. Accounting Information Sistems. Prentice Hall International. 6th. Ed.
Burch, Jr. Jhon, Garry Grudnitski. 1991. Information Sistems: Theory and Practice. Jhon Wiley & Sons. 5th Ed.
Chandrarin, Grahita dan Nur Indriantoro. 1997. Hubungan antara Partisipasi dan Kepuasan Pemakai Dalam Pengembangan Sistem Berbasis Komputer: Suatu Tinjauan Dua Faktor Kontinjensi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 13. No. 1.
Choe, Jong-Min. 1996. The Relationship Among Performance of Accounting Information Sistems, Influence Faktors, and Evolution Level of Information Sistems. Journal of Management Information Sistem. Vol 12. No. 4. Spring.
DeBrabander, D dan G. Their. 1984. Succesfull Information Sistem Development in Relation to Situasional Faktors Which Affect Affective Communication Between MIS Users and EDP Spesialist. Management Science. Vol 12 No. 4 Spring.
Doll. W.J. dan G. Torkzadch. 1986. A Discrepancy Model of End-User Computing Involvement, and Usefulness of Information Sistem. Decision Sciences. Vol. 17 No. 4.
Doll, William dan Xiadong Deng. 2001. The Collaborative Use of Information Technology : End User Participation and Sistem Succes. Information Resources Management Journals. ABI/INFORM Global.
Domai, Tjahjanulin. 2002. Reinventing Keuangan Daerah (Studi Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah). Google.co.id.
Franz, C.R. dan D. Robey. 1986. Organizational Context, User Involvement and Usefulness of Information Sistem. Decision Sciences. Vol. 17 No. 4.
Ginnzberg, M.J. 1981. Early Diagnosis of Implementation Failure: Priopmising Result and Unanswered Questions. Management Sciences. Vol. 17 No. 4. April.
Guimaraes, Tor, Sandy D. Staples., dan James D McKeen. 2003. Empirically Testing Some Main-User Related Faktors for Sistem Development Quality. The Quality Management Journal. ABI/INFORM Global. Hal 39-55.
Hunton, J.E., dan H.P. Kenneth. 1994. A Framework for Investigating Involvement Strategies in Accounting Information Sistem Development. Behavioural Research in Accounting. Vol. 6.
Hwang, MI dan RG Thorn. 1999. The Effet of User Engagement of Sistem Succes. A Meta Analytical Integration of Research Findings. Information Mangement.
Ives, B., M.H. Olson., dan J.J., Baroudi. 1983. The Measurement of User Information Satisfaction. Communication of the ACM. October.
________dan Olson. 1984. User Involvment and MIS Succes: A Review Research. Management Science. ABI/INFORM Global.
Jones, Gareth R. 2003. Organization Theory. 3rd Edition. Prenctice Hall. New York.
Kappelman, L dan McLean. 1991. The Respective Roles of User Participation and User Involvement in Information Sistem Implementation Success. Proccedings of The International Conference on Information Sistem. New York. NY.
Lawrence, M dan L, Graham. 1993. Exploring Individual User Satisfaction Within User Led Development. MIS Quarterly. June.
Mardiasmo. 2002. Perencanaan Keuangan Publik Sebagai Suatu Tuntutan Dalam Pelaksanaan Pemerintahan Daerah yang Bersih dan Berwibawa. Makalah Seminar IAK-KASP. Jakarta
McDermott, J. 1987. Improving Productivity Through Technologycal Innovation. Merck Bulletin.
McKeen D.J.G. Tor dan C.W. James. 1994. The Relationship of User Participation and User Satisfaction: An Investigation of Four Contingency Faktors. MIS Quarterly. December.
Muntoro R.K. 1994. The Use of Organization Behavior Methods in The Development of Computerized Accounting Sistem in Indonesia: An Attitudial Survey. PhD. Dissertation. Accountancy Development in Indonesia Publication.
Primasari, Dona., Lego Waspodo dan Syaiful Rahman. 2008. Variabel Anteseden dan Konsekuensi Implementasi Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) (Studi Empiris pada Badan Koordinasi Wilayah Pembangunan Lintas Kabupaten / Kota Wilayah I Provinsi Jawa Tengah. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak. Mei.
Restuningdiah, Nurika. 1999. Pengaruh Partisipasi terhadap Kepuasan Pemakai dalam Pengembangan Sistem Informasi dengan Kompleksitas Tugas, Kompleksitas Sistem, dan Pengaruh Pemakai sebagai Variabel Moderating. Tesis. Magister Akuntansi. UGM. Yogyakarta.
Robey, D., dan D.L. Farrow. 1982. User Involvement in Information Sistem Development: A Conflict Model and Empirical Test. Management Science. January.
__________, Dana Forrow dan Charles R. Frans. 1989. Group Process and Conflict in Sistem Development. Management Science. ABI/INFORM Global.
Setianingsih, Sunarti dan Nur Indriantoro. 1998. Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak dan Komunikasi Pemakai-Pengembang terhadap Hubungan Partisipasi dan Kepuasan Pemakai dalam Pengembangan Sistem Informasi. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 1 No. 2.
Suryaningrum, Diah Hari. 2003. The Relationship Between User Participation and Sistem Succes: Study of Three Contingency Faktors on BUMN in Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi. Surabaya.
Szajna, Bernadette dan Richard W., Scamell. 1988. The Effect of Information Sistem User Expectation on Their Performance and Perception. MIS Quarterly. March.
Tait, P dan I., Vessey. 1988. The Effect of User Involvement on Sistem Success: A Contingency Approach. MIS Quarterly. March.
Tjai Fung Jen. 2002. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi Akuntansi. Journal Bisnis dan Akuntansi. Vol 4. No. 2.
Vanlommel, E., dan DeBander, B. 1975. The Organization of EDP Activities and Computer Use. Journal of Bussiness.
Peraturan dan Undang-Undang
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Undamg-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintaan Daerah.
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 tahun 2006.
Sumber:
Yusnaini. 2010. Pengaruh Partisipasi Pemakai Terhadap Kepuasan Pemakai Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah (SIAKD) pada Pemerintah Daerah Sumatera Selatan. Jurnal Keuangan dan Bisnis. Vol. 8 No. 01. Maret 2010. STIE MUSI Palembang.